Mengenal Fenomena Fake Hunger Bagi Penderita Diabetes: Rasa Lapar Terus, Walau Gula Darah Tinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PROKALTENG.CO-Pengelolaan glukosuria melitus jenis 2 (DMT2) tidak hanya berangkaian dengan pengaturan makanan saat sarapan, makan siang, alias makan malam.

Banyak penyandang glukosuria juga menghadapi persoalan lain nan sering luput dari perhatian, ialah munculnya rasa lapar berlebihan di antara waktu makan alias nan dikenal sebagai fake hunger.

Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengirimkan sinyal lapar meski kadar gula darah sebenarnya sudah tinggi. Pada penyandang diabetes tipe 2, resistensi insulin membikin glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi.

Akibatnya, otak menerima sinyal seolah tubuh kekurangan daya dan memicu rasa lapar.

Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian para peneliti. Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care dan Nature Reviews Endocrinology menunjukkan bahwa resistensi insulin dapat mengganggu sistem pengaturan rasa kenyang dan daya di otak sehingga meningkatkan kecenderungan makan berlebihan pada sebagian pasien glukosuria jenis 2.

Akibatnya, banyak penderita glukosuria memilih mengonsumsi camilan di luar agenda makan utama. Sebagian lainnya justru menahan lapar terlalu lama, nan kemudian berujung pada konsumsi makanan berlebih saat waktu makan tiba. Kedua kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pengendalian gula darah.

Menurut master sekaligus konsultan pengembangan produk nutrisi, dr. Kelvin Candiago, tantangan terbesar bagi penyandang glukosuria sering kali bukan hanya saat makan utama, melainkan ketika rasa lapar muncul di sela-sela aktivitas harian.

Electronic money exchangers listing

“Bagi penyandang diabetes, tantangannya bukan hanya mengelola gula darah saat makan utama, tetapi juga saat muncul rasa lapar di antara waktu makan,” ujarnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa jenis makanan nan dikonsumsi saat ngemil berpengaruh terhadap respons gula darah. Konsep nan banyak digunakan adalah glycemic load alias beban glikemik, ialah ukuran nan menggambarkan seberapa besar akibat suatu makanan terhadap kenaikan gula darah.

PROKALTENG.CO-Pengelolaan glukosuria melitus jenis 2 (DMT2) tidak hanya berangkaian dengan pengaturan makanan saat sarapan, makan siang, alias makan malam.

Banyak penyandang glukosuria juga menghadapi persoalan lain nan sering luput dari perhatian, ialah munculnya rasa lapar berlebihan di antara waktu makan alias nan dikenal sebagai fake hunger.

Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengirimkan sinyal lapar meski kadar gula darah sebenarnya sudah tinggi. Pada penyandang diabetes tipe 2, resistensi insulin membikin glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi.

Electronic money exchangers listing

Akibatnya, otak menerima sinyal seolah tubuh kekurangan daya dan memicu rasa lapar.

Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian para peneliti. Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care dan Nature Reviews Endocrinology menunjukkan bahwa resistensi insulin dapat mengganggu sistem pengaturan rasa kenyang dan daya di otak sehingga meningkatkan kecenderungan makan berlebihan pada sebagian pasien glukosuria jenis 2.

Akibatnya, banyak penderita glukosuria memilih mengonsumsi camilan di luar agenda makan utama. Sebagian lainnya justru menahan lapar terlalu lama, nan kemudian berujung pada konsumsi makanan berlebih saat waktu makan tiba. Kedua kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pengendalian gula darah.

Menurut master sekaligus konsultan pengembangan produk nutrisi, dr. Kelvin Candiago, tantangan terbesar bagi penyandang glukosuria sering kali bukan hanya saat makan utama, melainkan ketika rasa lapar muncul di sela-sela aktivitas harian.

“Bagi penyandang diabetes, tantangannya bukan hanya mengelola gula darah saat makan utama, tetapi juga saat muncul rasa lapar di antara waktu makan,” ujarnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa jenis makanan nan dikonsumsi saat ngemil berpengaruh terhadap respons gula darah. Konsep nan banyak digunakan adalah glycemic load alias beban glikemik, ialah ukuran nan menggambarkan seberapa besar akibat suatu makanan terhadap kenaikan gula darah.

Sumber prokalteng