Mengapa Sentimen Anti-imigran Muslim Semakin Merebak Di Inggris?

Sedang Trending 10 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Puluhan ribu penduduk turun ke jalan di London, Inggris untuk berperan-serta dalam demonstrasi besar-besaran berjudul "Unite the Kingdom", Sabtu (16/5).

Peserta demo hingga penyelenggara adalah tokoh sayap kanan Tommy Robinson. Dia menyampaikan seruan seruan konservatifnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jutaan orang kudu pergi," kata Robinson, merujuk ke jutaan imigran di Inggris nan kudu pergi, dikutip CNN.

Februari lalu, teriakan "kirim mereka kembali" juga bergaung di terowongan bawah tanah London nan lembap saat ratusan demonstran sayap kanan anti-Islam bersiap untuk berparade melalui jalan-jalan.

Bendera Union Jack berkibar tertiup angin saat para demonstran, beberapa di antaranya tampak mabuk, meneriakkan serangkaian semboyan anti-imigrasi dan komentar mengejek Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Ini adalah demonstrasi nan diselenggarakan oleh Britain First, sebuah partai politik sayap kanan nan menyerukan deportasi massal dan pengusiran migran serta Muslim dari Inggris.

Banner Microsite Haji 2026

Apa penyebabnya?

Ada nan mengaitkan demo anti-imigran Muslim di Inggris dengan dua kasus. Menurut organisasi nan mendata Islamofobia, Tell Mama (Measuring Anti-Muslim Attacks) kejadian anti-Muslim meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu.

Penyebabnya, invasi Israel ke Gaza dan setelah tiga anak tewas ditikam dan 10 orang lainnya terluka dalam kejadian penikaman massal di Southport, Merseyside, pada 2024 silam.

Serangan penikaman itu terjadi di sebuah aktivitas bertema Taylor Swift di sebuah sekolah tari di Southport. Tiga anak wanita ialah Bebe King (6 tahun), Elsie Dot Stancombe (7 tahun), dan Alice Dasilva Agular (9 tahun)meninggal dunia.

Dalam laporannya, organisasi itu mengatakan telah terjadi "lonjakan retorika nan dengan keliru menggambarkan Muslim sebagai teroris alias simpatisan teroris" menyusul pecahnya bentrok Israel-Gaza dan pembunuhan Southport.

Seorang ahli bicara pemerintah menyebut temuan tersebut "sangat mengkhawatirkan" dan mengatakan bakal "berupaya memberantas kebencian dan rasisme anti-Muslim di mana pun itu terjadi."

Tell Mama mengatakan bahwa perubahan tersebut mencerminkan "dampak nan mendalam dari stereotip rawan nan memicu perpecahan masyarakat dan memperkuat pendapat salah tentang identitas Muslim", seperti dikutip dari BBC.

Sementara menurut Max Mumford, mahir Geopolitik dan Hubungan Internasional dari Universitas Amsterdam menyebutkan, krisis migran tahun 2015 di Eropa, nan menyaksikan masuknya pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika, memperluas kekhawatiran tentang identitas nasional, persaingan ekonomi, dan keamanan nasional.

Ketidakpuasan ekonomi semakin memicu support terhadap aktivitas sayap kanan. Banyak pemilih, khususnya di wilayah nan mengalami deindustrialisasi dan pedesaan, merasa tertinggal oleh meningkatnya keterkaitan globalisasi.

Krisis ekonomi dua dasawarsa terakhir, termasuk krisis finansial 2008 dan langkah-langkah penghematan berikutnya, memperburuk ketidaksetaraan dan memperdalam kebencian terhadap partai-partai politik arus utama.

Partai-partai sayap kanan mengeksploitasi ketidakpuasan ini dengan menampilkan diri sebagai pendukung nasionalisme ekonomi, berjanji untuk memprioritaskan kebutuhan penduduk negara original di atas lembaga internasional dan kebijakan internasionalis pasar bebas.

Para pemimpin sayap kanan telah sukses memanfaatkan frustrasi ini dengan memposisikan diri mereka sebagai orang luar nan bersedia menantang kemapanan politik.

Referendum Brexit di Inggris Raya mencontohkan dinamika ini, lantaran kampanye Leave, nan didukung oleh retorika tokoh-tokoh nan mengenai dengan sayap kanan seperti Steven Yaxley-Lennon (Tommy Robinson) alias Nigel Farage, menggambarkan Uni Eropa sebagai birokrasi nan tidak bertanggung jawab nan merusak kedaulatan Inggris.

Meskipun partai Reform UK di Inggris telah mengalami kesulitan elektoral dalam beberapa tahun terakhir, lantaran beragam faktor, seperti sistem pemilihan kebanyakan sederhana (first past the post) alias kurangnya kepercayaan terhadap perseorangan secara umum, sentimen anti-kemapanan nan lebih luas nan memicu Brexit tetap menjadi kekuatan nan berpengaruh dalam politik Eropa dan Inggris. Hal ini dapat dilihat melalui sejumlah kampanye Euroskeptis dari negara-negara personil Uni Eropa.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional