CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 18:30 WIB
Ilustrasi. Alasan orang nan memang susah berbicara tidak. (iStockphoto/DragonImages)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pernahkah Anda mengiyakan suatu permintaan, padahal di dalam hati sebenarnya mau menolak? Mungkin Anda sudah kelelahan lantaran pekerjaan nan menumpuk, mau beristirahat di rumah, alias sedang tidak mempunyai daya untuk membantu orang lain. Namun entah mengapa, kata 'tidak' terasa begitu susah diucapkan.
Fenomena ini dialami banyak orang. Bahkan, mereka nan dikenal baik hati, ramah, dan peduli terhadap orang lain justru sering kali menjadi golongan nan paling kesulitan menolak permintaan.
Melansir The Therapy Group, sekilas, sikap selalu mengiyakan tampak sebagai sesuatu nan positif. Namun jika dilakukan terus-menerus hingga mengorbankan kebutuhan diri sendiri, kebiasaan ini bisa berakibat jelek bagi kesehatan mental dan kualitas hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa berbicara tidak terasa begitu sulit?
Banyak orang tumbuh dalam lingkungan nan mengajarkan bahwa menjadi pribadi nan baik berfaedah selalu membantu, menurut, dan mengutamakan kepentingan orang lain. Sebaliknya, menolak sering kali dianggap tidak sopan, egois, alias kurang peduli.
Seiring waktu, kepercayaan tersebut tertanam kuat hingga membikin seseorang merasa bersalah setiap kali mau menetapkan batasan.
Berikut beberapa argumen utama kenapa orang baik sering kesulitan berbicara tidak:
1. Takut memicu konflik
Salah satu argumen paling umum adalah ketakutan bakal konflik. Bagi sebagian orang, menolak permintaan terasa seperti membuka pintu bagi pertengkaran, ketegangan, alias rusaknya hubungan.
Misalnya, seseorang tetap menghadiri aktivitas pertemanan meski sangat capek lantaran cemas teman-temannya bakal tersinggung alias berakhir mengajaknya berkumpul di kemudian hari.
Padahal, dalam banyak kasus, orang lain mungkin jauh lebih memahami daripada nan dibayangkan.
2. Terlalu membayangkan reaksi negatif
Otak manusia secara alami berupaya memprediksi beragam kemungkinan nan bakal terjadi. Sayangnya, ketika kudu menetapkan batasan, banyak orang justru condong membayangkan skenario terburuk.
Mereka mengira orang lain bakal marah, kecewa, alias menolak mereka jika mendengar kata "tidak". Kenyataannya, respons nan muncul sering kali jauh lebih netral dan dapat diterima.
Ketakutan nan berlebihan terhadap reaksi negatif membikin seseorang memilih mengorbankan dirinya sendiri demi menghindari kemungkinan nan apalagi belum tentu terjadi.
3. Tidak nyaman memandang orang lain kecewa
Ada pula orang nan sebenarnya memahami bahwa penolakan nan mereka berikan masuk logika dan wajar. Namun mereka tetap merasa tidak nyaman ketika memandang orang lain kecewa alias kesulitan akibat keputusan tersebut.
Akibatnya, mereka lebih memilih menanggung beban sendiri daripada menghadapi rasa bersalah lantaran membikin orang lain tidak senang. Contohnya, seseorang terus lembur meski kelelahan lantaran merasa tidak tega jika atasannya kudu mencari support dari orang lain.
4. Memiliki kecenderungan people pleasing
Kebiasaan menyenangkan orang lain alias people pleasing juga menjadi penyebab utama seseorang susah berbicara tidak.
Orang dengan kecenderungan ini sering kali mengaitkan nilai dirinya dengan penerimaan dari lingkungan sekitar. Mereka merasa dicintai, dihargai, alias dianggap berfaedah ketika bisa memenuhi angan orang lain.
Karena itu, menolak permintaan terasa berisiko. Mereka cemas dianggap egois, tidak peduli, alias kehilangan hubungan nan krusial bagi dirinya.
Dalam banyak kasus, pola ini berakar dari pengalaman masa kecil, terutama ketika kasih sayang alias penghargaan hanya diberikan saat mereka memenuhi ekspektasi tertentu.
5. Pengaruh budaya dan pola asuh
Latar belakang budaya dan family juga berkedudukan besar dalam membentuk langkah seseorang memandang penolakan.
Di sejumlah family alias komunitas, terutama nan menjunjung tinggi penghormatan kepada orang nan lebih tua, berbicara tidak bisa dianggap sebagai corak pembangkangan.
Akibatnya, seseorang tumbuh dengan kepercayaan bahwa menolak permintaan orang tua, pasangan, alias personil family lainnya merupakan tindakan nan salah, meski permintaan tersebut sebenarnya memberatkan dirinya.
Perempuan juga kerap menghadapi tekanan sosial untuk selalu terlihat ramah, penurut, dan suportif. Hal ini membikin proses menetapkan batas terasa lebih sulit.
6. Takut kehilangan kesempatan
Ketakutan bakal kehilangan kesempatan alias fear of missing out (FOMO) juga bisa membikin seseorang susah menolak. Mereka cemas kehilangan kesempatan berkarier, memperluas relasi, alias mendapatkan pengalaman baru jika tidak selalu mengatakan 'ya'.
Akibatnya, agenda menjadi penuh, daya terkuras, dan stres meningkat lantaran terlalu banyak komitmen nan kudu dipenuhi.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·