Jakarta -
Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pelajar, mulai dari sekolah dasar hingga universitas terkemuka, semakin mengalihkan proses berpikir ke model bahasa besar (LLM) alias AI. Salah satu imbasnya, siswa mulai kehilangan keahlian kognitif nan menyebabkan nilai ujian mereka anjlok.
Dikutip detikINET dari Futurism, situasi sedang terjadi di ruang-ruang kelas di mana siswa dari beragam lapisan masyarakat telah berubah menjadi wadah kosong nan hanya membeo jawaban AI tanpa menelaah materi pelajaran secara kritis.
Mahasiswi Universitas Yale, diidentifikasi sebagai Amanda, mengatakan pada CNN bahwa prosa ChatGPT nan monoton apalagi telah meresap ke seminar-seminar di kampus bergengsi Ivy League. Percakapan antar mahasiswa jadi semakin tawar dan mudah ditebak, indikasi mereka mengandalkan AI untuk memikirkan bahan diskusi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amanda menceritakan pernah memandang seseorang mengetik dengan sangat sigap di laptopnya untuk menanyakan kepada AI pertanyaan nan baru saja diajukan oleh guru besar mengenai materi bacaan.
"Semua orang sekarang terdengar sama. Saya merasa saat tahun pertama kuliah, saya duduk di seminar di mana tiap orang punya kontribusi pendapat berbeda. Walau orang-orang saling menimpali pendapat satu sama lain, mereka melihatnya dari perspektif pandang berbeda dan menawarkan komentar nan beragam," sebutnya.
Amanda tidak sendirian. Salah satu rekannya, Jessica, mengatakan bahwa setiap kelas selalu diawali dengan kepanikan massal menggunakan AI. "Pada awal kelas, Anda bisa memandang setiap orang memasukkan semua file PDF ke dalam AI," ungkap mahasiswi tingkat akhir Yale tersebut.
Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi akibat AI terhadap manusia. Salah satu makalah terbaru di jurnal Trends in Cognitive Sciences beranggapan AI menumpulkan langkah penggunanya dalam mendekati masalah, merangkai bahasa, dan menalar persoalan.
Ketika kita memakai chatbot AI untuk berpikir, kita secara diam-diam menukar pikiran manusiawi kita dengan keluaran LLM, sebuah kumpulan info homogen dari model AI nan kita pilih.
Morteza Dehghani, rofesor ilmu jiwa di University of Southern California sekaligus rekan penulis makalah tersebut, menilai implikasinya cukup menakutkan. "Jika orang-orang kehilangan keberagaman kognitif alias terjebak dalam kemalasan intelektual, tentu saja perihal itu bakal sangat berakibat jelek bagi masyarakat kita," ujarnya.
(fyk/rns)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·