Kkp Siapkan Insentif Buat Daerah Yang Berhasil Cegah Kebocoran Sampah Ke Laut

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Badung -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan skema insentif dan disinsentif bagi pemerintah wilayah dalam pengelolaan sampah. Kebijakan tersebut bakal dimuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengelolaan Sampah Nasional nan tetap difinalisasi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP A Koswara mengatakan insentif bakal disiapkan untuk wilayah nan sukses mencegah hingga mengelola sampah sehingga tidak mencemari laut. Sebaliknya, wilayah nan tetap menyebabkan kebocoran sampah ke laut bakal dikenai disinsentif.

"Nah jika ini sudah final Perpresnya, kita kelak bakal ada penilaian. Daerah-daerah nan tetap bocor sampahnya ke laut itu dikenakan disinsentif. nan sudah bagus, nan sudah sukses mengolah sampahnya dengan baik di wilayah masing-masing diberikan insentif dan penghargaan. Nah kita sorong seperti itu, kita kuatkan di dalam Perpres," kata Koswara dalam konvensi pers usai aktivitas bersih-bersih Pantai Petitenget, Badung, Bali, Jumat (13/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Insentifnya tetap digodok KKP, namun bisa berbentuk apresiasi, fiskal, hingga program. Kepastiannya tetap bakal dibahas dengan kementerian dan lembaga (K/L) lainnya.

Saat ini diperkirakan 20 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya. Menurutnya, persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan memerlukan kerjasama pemerintah daerah, bumi usaha, dan masyarakat.

"Saat ini diperkirakan sekitar 20 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya. Jumlah ini tentu bisa dikurangi andaikan seluruh pihak bergerak bersama. Kalau hanya mengandalkan APBN, tentu tidak mungkin persoalan ini dapat diselesaikan," katanya.

Koswara membujuk masyarakat ikut berkedudukan mencegah sampah masuk ke laut. Menurutnya, kondisi laut sangat dipengaruhi oleh aktivitas di daratan lantaran sampah plastik nan mencemari laut berasal dari aktivitas manusia.

"Kita kudu menyadari bahwa kondisi laut sangat dipengaruhi aktivitas di darat. Sampah plastik tidak muncul dengan sendirinya di laut. nan memproduksi sampah plastik adalah kita semua. Karena itu, kita pula nan kudu menjaganya, menguranginya, dan memastikan sampah tersebut tidak berhujung di laut," tegasnya.

Koswara menyebut, berasas izin nan berlaku, tanggung jawab pengelolaan sampah berada di sumbernya. Artinya, rumah tangga, hotel, restoran, hingga pihak lain nan menghasilkan sampah bertanggung jawab atas pengelolaannya.

Ia mengatakan, langkah paling sederhana nan dapat dilakukan adalah memilah sampah sejak dari sumber. Dengan pemilahan, proses pengolahan dan daur ulang bakal menjadi lebih mudah sekaligus menekan biaya pengelolaan.

"Yang paling sederhana, nan paling mini itu memilah. Karena dengan memilah, maka proses berikutnya bakal sangat mudah untuk mengelola sampah," ujarnya.

Koswara mencontohkan, sejumlah hotel dan restoran di Bali telah bekerja sama dengan TPS 3R maupun perusahaan daur ulang untuk mengelola sampahnya sendiri. Hasilnya, sampah nan berhujung di tempat pemrosesan akhir (TPA) hanya sekitar 25%.

Menurutnya, nyaris separuh proses dalam teknologi pengolahan sampah saat ini merupakan proses pemilahan. Apabila sampah sudah dipilah sejak awal, proses daur ulang menjadi jauh lebih mudah. Sebaliknya, jika sampah tetap bercampur, teknologi nan dibutuhkan menjadi jauh lebih mahal.

Ia juga mencontohkan teknologi daur ulang plastik saat ini sudah berkembang pesat hingga bisa menghasilkan produk berbobot tinggi nan diekspor. Namun, tanpa kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya, pemanfaatan teknologi tersebut tidak bakal optimal.

Koswara juga menuturkan pemerintah sekarang mengedepankan strategi pencegahan dibanding mengangkat sampah nan sudah telanjur mencemari laut. Menurutnya, biaya membersihkan sampah di laut jauh lebih besar, sementara ekosistem sudah terlanjur terdampak.

"Kalau sudah masuk ke laut itu susah, biayanya tinggi untuk mengambilnya kembali dan pasti sudah mempengaruhi ekosistem. Makanya strategi kita di dalam mengelola sampah agar tidak masuk ke laut dilakukan dengan pencegahan," pungkasnya.

(ada/ara)

Sumber finance