Jakarta, CNN Indonesia --
Selama ini, narasi mengenai hariakhir massal alias kepunahan makhluk hidup di Bumi selalu diidentikkan dengan hantaman asteroid raksasa nan memusnahkan dinosaurus ratusan juta tahun lalu. Namun, jauh sebelum era reptil raksasa itu dimulai, Bumi pernah mengalami musibah kepunahan massal pertamanya.
Uniknya, dalang di kembali petaka tersebut bukan barang langit, melainkan senyawa nan hari ini justru dibutuhkan untuk hidup, oksigen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir American Society for Microbiology, lebih dari 2,4 miliar tahun lalu, sebuah peristiwa nan disebut sebagai Great Oxidation Event mengubah total wajah planet Bumi. Bagi makhluk hidup nan mendominasi Bumi saat itu, kehadiran oksigen menjadi 'senjata kimia' nan mematikan.
Pada awal pembentukannya, atmosfer Bumi sangat berbeda dengan sekarang. Udara Bumi purba dipenuhi oleh gas metana, karbon dioksida, dan uap air. Makhluk hidup nan menguasai Bumi saat itu adalah organisme anaerob, ialah mikroba mini nan hidup dan berkembang biak tanpa memerlukan oksigen.
Petaka bermulai ketika muncul sekelompok mikroba jenis baru, Cyanobacteria. Makhluk bersel tunggal ini berevolusi dan menemukan langkah unik untuk memperkuat hidup dengan berfotosintesis menggunakan air dan support sinar Matahari.
Proses fotosintesis ini sangat sukses dan efisien, tapi pengaruh sampingnya menghasilkan unsur sisa berupa gas oksigen. Lantaran populasi Cyanobacteria meledak di lautan, jumlah oksigen nan mereka buang sebagai 'limbah' pun ikut melimpah.
Mulanya, oksigen nan dibuang ini langsung bereaksi dengan unsur besi di lautan dan membentuk karat nan tenggelam ke dasar laut. Namun, lama-kelamaan unsur besi di lautan habis.
Oksigen nan tidak lagi terbendung itu akhirnya meluap ke atmosfer.
Bagi mikroba purba penguasa Bumi, luapan oksigen ini merupakan polusi terburuk dalam sejarah. Oksigen secara garang menyerang dan merusak sel mereka.
"Karena kehidupan berkarakter anaerobik 2,7 miliar tahun lampau saat Cyanobacteria berevolusi, oksigen diyakini bertindak sebagai racun dan melenyapkan sebagian besar kehidupan anaerobik, sehingga menciptakan peristiwa kepunahan," tulis American Society for Microbiology dalam laman resminya, dikutip Kamis (4/6).
Ketika peristiwa itu terjadi, oksigen tidak berbisa secara pasif, melainkan sangat reaktif. Zat ini membentuk senyawa radikal nan bisa merusak DNA, mengoksidasi protein, dan melumpuhkan inti sistem metabolisme makhluk hidup anaerobik. Akibatnya, miliaran mikroba purba meninggal massal dalam waktu singkat.
Efek domino tidak berakhir di situ. Hilangnya gas metana, nan bertindak sebagai gas rumah kaca penahan panas, akibat bereaksi dengan oksigen membikin suhu Bumi merosot tajam. Planet ini langsung terjebak dalam Zaman Es Huronian, salah satu era es terlama dan terparah dalam sejarah, ketika nyaris seluruh permukaan Bumi membeku selama nyaris 300 juta tahun.
Hanya sedikit mikroba anaerob nan sukses selamat dari hariakhir oksigen ini. Mereka terpaksa mengungsi dan berlindung di tempat-tempat terpencil nan tidak tersentuh udara luar, seperti di dalam lumpur laut dalam, sumber air panas, hingga usus makhluk hidup modern saat ini.
Meski awalnya menjadi bencana, peristiwa ini pada akhirnya membuka jalan bagi sejarah baru. Seiring berjalannya waktu, beberapa jenis mikroba nan memperkuat hidup mulai beradaptasi dan justru memanfaatkan oksigen untuk menghasilkan daya nan jauh lebih besar.
Adaptasi ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya makhluk hidup multiseluler nan lebih kompleks, mulai dari tanaman, hewan, hingga manusia modern.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·