CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 18:00 WIB
Ilustrasi. Ada sejumlah ciri-ciri orang kudu ke psikiater nan perlu dikenali, agar penanganan bisa sigap dan tepat. (iStock/Chinnapong)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesehatan mental penting untuk dijaga. Namun seringnya banyak orang nan ragu apakah kudu mendapat support dari psikiater. Anda perlu tahu apa saja ciri-ciri orang kudu ke psikiater.
Adapun psikiater merupakan master nan mempunyai training unik dalam penilaian, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan penyakit mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Verywell Mind, kondisi psikiatri nan umumnya didiagnosis oleh psikiater, antara lain gangguan stress pascatrauma (PTSD), gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD), skizofrenia, dan gangguan bipolar.
Ciri-ciri orang kudu ke psikiater
Seorang psikiater dapat meresepkan obat untuk pasiennya. Namun perihal tersebut berjuntai pada tingkat keparahan indikasi dan kebutuhan serta kemauan pasien.
Menurut Express, seseorang nan mengalami depresi kudu segera ditangani. Ciri-ciri orang kudu ke psikiater mungkin bisa Anda perhatikan untuk mendapatkan pengobatan nan tepat.
Seorang konsultan psikiater, Ahmed Hankir, menjelaskan tiga indikasi depresi nan kudu Anda sadari untuk segera melakukan pengobatan tepat. Berikut tandanya:
1. Berkurangnya daya dan motivasi
"Depresi dapat menguras seluruh daya dari tubuh Anda," kata Ahmed. Bukan hanya capek bentuk lantaran aktivitas, Ahmed menjelaskan capek nan dimaksudnya bisa mengenai dengan kelelahan emosional dan mental.
Menurut Ahmed, seseorang nan mengalami depresi sering kali tidak mempunyai daya dan motivasi untuk bangun dari tempat tidur. Mereka juga dapat dengan mudah menghabiskan sepanjang hari dengan berebahan di tempat tidur tanpa melakukan apa pun.
2. Kehilangan minat, kesenangan, alias kegembiraan dalam hidup
Konsultan psikiater nan mempunyai 426 ribu pengikut di TikTok ini menjelaskan, seseorang dengan depresi dapat kehilangan semua minat pada aktivitas nan dulu mereka sukai, termasuk hobi. Seseorang nan depresi mengalami anhedonia.
"Anda mungkin pernah mendengar istilah hedonism sebelumnya, ialah pengejaran kesenangan. Anhedonia merupakan ketiadaan kesenangan sama sekali, misalnya, mengenai makanan favorit maupun keintiman dengan pasangan," tuturnya.
3. Tidak bisa konsentrasi
Depresi juga berpengaruh pada konsentrasi. Seseorang nan depresi terlihat seperti orang linglung alias melamun.
"Mereka dapat kesulitan mengikuti percakapan lantaran mereka tampaknya tersesat dalam pusaran pikiran nan depresi," ujarnya.
Bahkan, kata Ahmed, masalah konsentrasi penderita depresi bisa sangat parah sehingga tampak seperti seseorang dengan demensia. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu.
"Istilah untuk ini adalah pseudo-demensia," tuturnya. Biasanya, ditambahkan Ahmed, langkah mengatasi depresi nan mendasarinya dengan pengobatan antidepresan dan masalah konsentrasi tersebut bakal hilang.
Meski demikian, tidak melulu ketiga indikasi tersebut memastikan Anda adalah penderita depresi. Oleh lantaran itu, periksakan diri ke psikiater jika Anda mengalami ketiga tanda itu.
Demikian ciri-ciri orang kudu ke psikiater nan bisa Anda cermati. Mulailah perhatikan kesehatan mental Anda sejak dini.
(glo/rti)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·