Jakarta -
Penurunan drastis permukaan air membuka sejarah nan lama tersembunyi. Para arkeolog dibuat terkejut setelah sisa-sisa kota antik muncul ke permukaan akibat surutnya air di sebuah wilayah nan terdampak kekeringan ekstrem.
Fenomena ini terjadi ketika air di sebuah waduk menyusut. Saat itu terjadi, reruntuhan kota nan sebelumnya tenggelam selama bertahun-tahun muncul. Kota tersebut diperkirakan berasal dari Zaman Perunggu, dengan usia mencapai lebih dari 3.000 tahun.
Temuan ini mencakup beragam struktur penting, mulai dari gedung besar hingga sistem tata kota nan tetap terlihat jelas. Dinding-dinding bangunan, jalan, hingga sisa-sisa pemukiman menunjukkan bahwa area tersebut pernah menjadi pusat kehidupan nan maju pada masanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para arkeolog menyebut kondisi ini sebagai penemuan langka, lantaran biasanya situs seperti ini susah diakses akibat tertutup air dan sedimen selama puluhan tahun. Namun di kembali penemuan spektakuler ini, tersimpan kekhawatiran besar. Surutnya air nan membuka situs antik ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan akibat kekeringan berkepanjangan nan melanda wilayah tersebut.
Dikutip dari The Cool Down, kejadian serupa juga terjadi di beragam tempat lain di dunia. Di Turki, misalnya, turunnya permukaan air di waduk mengungkap struktur berumur hingga 11.000 tahun nan sebelumnya terkubur di bawah air dan tanah.
Para peneliti menegaskan bahwa meski temuan ini memberi kesempatan besar untuk mempelajari masa lalu, kondisi nan menyebabkannya justru menjadi peringatan serius. Air nan menyusut bukan hanya membuka situs sejarah, tetapi juga menandakan krisis lingkungan nan semakin nyata, mulai dari perubahan suasana hingga berkurangnya sumber air bagi manusia.
Kini, para arkeolog berpacu dengan waktu untuk mendokumentasikan dan meneliti situs tersebut sebelum air kembali naik alias struktur semakin rusak akibat paparan udara.
(rns/rns)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·