CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 11:15 WIB
Ilustrasi. Waspada, penyakit kanker terus meningkat. (iStock/toeytoey2530)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tantangan penanganan kanker di Jakarta tetap menjadi pekerjaan rumah bagi jasa kesehatan. Meski akomodasi kesehatan terus bertambah, nomor kunjungan hingga kematian akibat kanker tetap menunjukkan peningkatan signifikan.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ratna Sari mengungkapkan, pada 2025 terdapat 625.022 kunjungan rawat jalan pasien kanker di Jakarta. Angka tersebut menempatkan kanker sebagai penyakit dengan kunjungan rawat jalan tertinggi keenam.
Sementara itu, kunjungan rawat inap pasien kanker mencapai 109.749 kasus dan berada di posisi keempat tertinggi. nan lebih mengkhawatirkan, nomor kematian akibat kanker meningkat hingga 33 persen, dari 5.729 kasus pada 2024 menjadi 7.675 kasus pada 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"DKI Jakarta mempunyai 109 rumah sakit, belum lagi 44 Puskesmas Utama dan ratusan klinik. Namun, rupanya penyakit kanker juga belum dapat diatasi sepenuhnya. Oleh lantaran itu, kita tidak hanya mengupayakan aspek kuratif, tetapi juga promotif dan preventif untuk penyakit-penyakit seperti kanker," ujar Ratna dalam keterangan tertulis, Senin (25/5).
Di tengah meningkatnya kasus tersebut, perkembangan teknologi pengobatan kanker juga terus berkembang. Salah satu pengobatan nan sekarang menjadi perhatian adalah imunoterapi dan CAR T-cell therapy untuk kanker darah.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik di MRCCC Siloam Semanggi, Chospiadi Irawan, menjelaskan bahwa imunoterapi sekarang menjadi pendekatan krusial dalam pengobatan kanker selain operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
Menurutnya, imunoterapi bekerja dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh pasien untuk melawan sel kanker.
"Imunoterapi merupakan upaya untuk menstimulasi sistem imun agar bisa mengeradikasi sel kanker. Salah satu corak imunoterapi paling maju saat ini adalah CAR T-cell therapy, ialah terapi nan dilakukan dengan memodifikasi sel T pasien agar dapat mengenali dan menghancurkan sel kanker secara lebih spesifik," jelasnya saat menjelaskan paparannya di aktivitas Siloam Oncology Summit 2026.
Dalam prosedurnya, sel T pasien diambil melalui proses leukapheresis. Sel tersebut kemudian direkayasa secara genetik di laboratorium sebelum dikembalikan ke tubuh pasien untuk menyerang sel kanker.
CAR T-cell therapy dinilai menunjukkan hasil nan menjanjikan pada beberapa jenis kanker darah seperti leukemia sel B, chronic lymphocytic leukemia (CLL), dan limfoma non-Hodgkin. Tingkat remisi pada sejumlah pasien disebut cukup tinggi.
Meski demikian, terapi ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Selain biaya produksi nan mahal dan proses nan kompleks, akses pasien terhadap terapi juga tetap terbatas lantaran memerlukan akomodasi unik dan kriteria klinis tertentu.
Chospiadi menjelaskan, perkembangan teknologi CAR T-cell therapy sekarang telah memasuki generasi baru dengan efektivitas nan lebih baik. Generasi terbaru dilengkapi kombinasi costimulatory domain seperti CD28 dan 4-1BB untuk meningkatkan aktivitas sel T dalam melawan tumor.
"Generasi nan lebih baru memberikan efektivitas nan lebih baik dalam meningkatkan proliferasi dan aktivitas sel T terhadap sel tumor," katanya.
Saat ini, terapi CAR T-cell umumnya diberikan kepada pasien nan sudah mengalami kegagalan pada beberapa lini pengobatan. Namun, ke depan terapi ini diperkirakan bakal digunakan lebih luas, termasuk pada pasien dengan akibat tinggi dan kekambuhan cepat.
"Imunoterapi sudah mengubah lanskap terapi kanker darah. CAR T-cell menawarkan potensi kuratif pada pasien tertentu, meski aksesnya tetap terbatas," ujar Chospiadi.
Selain terapi, perkembangan teknologi pemeriksaan kanker juga terus berkembang. Dokter ahli kedokteran nuklir dari MRCCC Siloam Semanggi, Ivana Dewi Mulyanto, menjelaskan bahwa PET-CT sekarang menjadi salah satu perangkat krusial dalam pemeriksaan dan pemantauan terapi kanker darah.
PET-CT menggunakan FDG (fluorodeoxyglucose) untuk memandang aktivitas metabolik di dalam tubuh. Pemeriksaan ini membantu master mendeteksi area dengan aktivitas sel abnormal nan tinggi.
Namun, Ivana menegaskan bahwa hasil PET-CT tidak bisa menjadi satu-satunya dasar pemeriksaan kanker lantaran unsur FDG juga dapat ditangkap oleh jaringan nan mengalami peradangan alias infeksi.
Karena itu, pemeriksaan biopsi tetap diperlukan untuk memastikan pemeriksaan kanker darah. Meski begitu, PET-CT sangat membantu master menentukan letak biopsi nan paling tepat.
"Penggunaan PET-CT sekarang semakin krusial terutama pada kasus limfoma, mulai dari menentukan stadium penyakit, mengevaluasi respons terapi, hingga mendeteksi kekambuhan," kata dia.
Ia menekankan bahwa penanganan kanker memerlukan kerjasama beragam disiplin ilmu, mulai dari hematologi, patologi, radiologi, hingga kedokteran nuklir agar pasien mendapatkan pemeriksaan dan terapi nan tepat.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·