Jakarta, CNN Indonesia --
Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz pada Kamis (25/6) setelah sebuah kapal kargo diserang ketika berlayar dekat Oman.
Pada Jumat (26/6), perusahaan pelayaran Taiwan, Evergreen Marine, mengatakan kapalnya nan berbendera Singapura berjulukan Ever Lovely terkena hantaman "benda tak dikenal" di dekat Oman saat berlayar. Padahal kapal itu berlayar melalui rute nan direkomendasikan oleh badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Evergreen mengatakan Ever Lovely terkena hantaman di sisi kanan kapal (starboard). Pemeriksaan awal menemukan kerusakan pada jendela anjungan kapal.
"Seluruh awak, kapal, dan muatan dalam kondisi aman," kata perusahaan dalam keterbukaan info kepada bursa saham.
"Kapal telah sukses meninggalkan Selat Hormuz dengan selamat."
Seorang sumber keamanan mengatakan kapal tersebut kemungkinan menjadi sasaran serangan drone.
IMO sebelumnya membantu ratusan kapal dan ribuan pelaut nan terjebak di Selat Hormuz imbas perang AS-Iran pecah sejak 28 Februari agar dapat meninggalkan area tersebut.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, mengatakan organisasi itu memutuskan "menghentikan sementara penerapan operasi tersebut untuk memastikan kembali bahwa seluruh agunan keselamatan nan diperlukan tetap bertindak bagi kapal-kapal dalam daftar pemindahan kami maupun seluruh kapal di kawasan."
IMO menegaskan kapal Ever Lovely menjadi sasaran serangan bukan bagian dari inisiatif evakuasinya. Program sukarela nan diluncurkan pada Selasa itu memungkinkan kapal beserta awaknya keluar dari Teluk melalui dua jalur, ialah melalui perairan Iran alias perairan Oman, dengan pengawasan Amerika Serikat.
Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang Iran.
Sebelumnya, UKMTO melaporkan sebuah kapal dihantam proyektil hanya beberapa jam setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan jalur pelayaran nan belum disetujui Iran.
Dua pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa Iran menembaki kapal tersebut.
Sementara itu, Otoritas Selat Teluk Persia Iran, lembaga nan dibentuk Teheran untuk mengelola permohonan pelayaran di Selat Hormuz, menyatakan kapal nan berlayar di luar rute nan telah ditetapkan tidak bakal dijamin keselamatannya.
"Segala akibat nan timbul akibat pelayaran melalui rute nan tidak diizinkan menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan nakhoda kapal," demikian pernyataan otoritas Iran.
Pemerintah AS belum memberikan komentar mengenai kejadian ini. Namun, awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan jika Iran tidak mematuhi kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, Washington kemungkinan bakal kembali melancarkan serangan terhadap negara tersebut.
(rds)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·