NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Maraknya kasus perselingkuhan nan mencuat di wilayah Kabupaten Lamandau baru-baru ini memicu beragam reaksi masyarakat. Terutama tindakan para istri nan memilih meviralkan perselingkuhan suaminya di media sosial. Menanggapi perihal tersebut, Hipnoterapis asal Lamandau, Mery Hermawati, CH., CHt., CPHt, memberikan tanggapan dari perspektif pandang psikologis dan hipnoterapi.
Mery menjelaskan bahwa tindakan istri mengunggah bukti perselingkuhan ke jagat maya sebenarnya bukan bermaksud untuk membuka kejelekan family alias sekadar mencari perhatian publik. Menurutnya, kejadian ini terjadi lantaran adanya ledakan emosi nan tak terbendung.
Ia menyebut bahwa rasa kecewa nan mendalam akibat pengkhianatan serta kemarahan nan memuncak, membikin seseorang kehilangan kontrol diri. Hal inilah nan memicu mereka bertindak tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjang setelah unggahan tersebut viral.
“Jadi tindakan meviralkan sebenarnya corak dari pelampiasan emosi istri nan tersakiti,” ujar Mery saat dikonfirmasi media, Sabtu (2/5/2026).
Lebih lanjut, Mery memaparkan bahwa saat berada dalam kondisi terpuruk, seseorang condong memerlukan pengesahan atas penderitaan nan dialaminya. Dengan kekuatan media sosial nan besar, seorang istri merasa bunyi dan rasa sakitnya didengar serta didukung oleh netizen.
Selain itu, tindakan ini merupakan bagian dari respon stres nan disebut sebagai fight response alias mode menyerang. Istri nan tersakiti melakukan serangan kembali agar rasa sakit tersebut tidak dirasakan sendirian. Ada kepuasan tersendiri ketika pelaku perselingkuhan juga merasakan akibat nyata dari perbuatannya, seperti hukuman sosial dan rasa malu.
Mery menekankan bahwa keputusan untuk meviralkan pasangan seringkali dilakukan dalam kondisi kesadaran nan tidak utuh lantaran kekuasaan emosi.
“Sehingga bisa dikatakan ketika istri meviralkan suami nan selingkuh itu tidak sepenuhnya dilakukan dalam kesadaran penuh, lantaran saat emosi memuncak maka ada ego terluka nan mengambil peran untuk bertindak,” tandasnya. (bib)
NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Maraknya kasus perselingkuhan nan mencuat di wilayah Kabupaten Lamandau baru-baru ini memicu beragam reaksi masyarakat. Terutama tindakan para istri nan memilih meviralkan perselingkuhan suaminya di media sosial. Menanggapi perihal tersebut, Hipnoterapis asal Lamandau, Mery Hermawati, CH., CHt., CPHt, memberikan tanggapan dari perspektif pandang psikologis dan hipnoterapi.
Mery menjelaskan bahwa tindakan istri mengunggah bukti perselingkuhan ke jagat maya sebenarnya bukan bermaksud untuk membuka kejelekan family alias sekadar mencari perhatian publik. Menurutnya, kejadian ini terjadi lantaran adanya ledakan emosi nan tak terbendung.
Ia menyebut bahwa rasa kecewa nan mendalam akibat pengkhianatan serta kemarahan nan memuncak, membikin seseorang kehilangan kontrol diri. Hal inilah nan memicu mereka bertindak tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjang setelah unggahan tersebut viral.
“Jadi tindakan meviralkan sebenarnya corak dari pelampiasan emosi istri nan tersakiti,” ujar Mery saat dikonfirmasi media, Sabtu (2/5/2026).
Lebih lanjut, Mery memaparkan bahwa saat berada dalam kondisi terpuruk, seseorang condong memerlukan pengesahan atas penderitaan nan dialaminya. Dengan kekuatan media sosial nan besar, seorang istri merasa bunyi dan rasa sakitnya didengar serta didukung oleh netizen.
Selain itu, tindakan ini merupakan bagian dari respon stres nan disebut sebagai fight response alias mode menyerang. Istri nan tersakiti melakukan serangan kembali agar rasa sakit tersebut tidak dirasakan sendirian. Ada kepuasan tersendiri ketika pelaku perselingkuhan juga merasakan akibat nyata dari perbuatannya, seperti hukuman sosial dan rasa malu.
Mery menekankan bahwa keputusan untuk meviralkan pasangan seringkali dilakukan dalam kondisi kesadaran nan tidak utuh lantaran kekuasaan emosi.
“Sehingga bisa dikatakan ketika istri meviralkan suami nan selingkuh itu tidak sepenuhnya dilakukan dalam kesadaran penuh, lantaran saat emosi memuncak maka ada ego terluka nan mengambil peran untuk bertindak,” tandasnya. (bib)
5 jam yang lalu


English (US) ·
Indonesian (ID) ·