Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengejek blokade laut nan diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak mempan melemahkan negaranya.
Dalam unggahan berkata Inggris bersuara sindiran di platform X-nya, Ghalibaf menertawakan strategi blokade minyak AS. Ia menyebut bahwa setelah tiga hari diberlakukan, tidak ada satu pun sumur minyak Iran nan "meledak" akibat tekanan nan diperkirakan meningkat lantaran ekspor nan terhambat.
Ghalibaf, mantan komandan militer nan menjabat sebagai Ketua Parlemen sejak 2020, apalagi secara sarkastik menantang Trump agar blokade diperpanjang hingga 30 hari dan disiarkan secara langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah tiga hari berlalu, tidak ada satu pun sumur nan meledak. Kami bisa memperpanjang (blokade) hingga 30 hari dan menyiarkan langsung kondisi sumur di sini," kata Ghalibaf dalam kicauannya di X.
Terlepas dari gencatan senjata dengan Iran sejak 8 April, Presiden Donald Trump tetap menegaskan AS menerapkan blokade maritim komersial terhadap kapal-kapal dan pelabuhan Iran di Teluk Oman sekitarnya.
Langkah ini bermaksud menahan Iran agar tak bisa mengekspor minyaknya ke luar negeri sehingga memaksa Teheran memilih antara memangkas produksi (yang berfaedah kehilangan pendapatan) alias menghadapi akibat kerusakan prasarana akibat penyumbatan dan tekanan berlebih di pipa serta reservoir.
Hal itu untuk membuktikan bahwa kebijakan blokade Trump tidak menggetarkan stabilitas Iran.
Mantan komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan wali kota Teheran (2005-2017) itu memang dikenal mempunyai latar belakang teknik, serta mempunyai reputasi sebagai tokoh garis keras nan "pragmatis". Ghalibaf juga dikenal sebagai tokoh krusial abdi negara keamanan Iran.
Dalam unggahannya, Ghalibaf juga menyalahkan "nasihat keliru" dari pejabat AS seperti Menteri Keuangan Scott Bessent nan mendorong teori blokade tersebut. Ia menyatakan kebijakan itu justru mendorong lonjakan nilai minyak dunia hingga US$120 per barel, dengan US$140 disebut sebagai "tujuan berikutnya".
Pesan Ghalibaf jelas: alih-alih melumpuhkan Iran, kebijakan tersebut justru merugikan konsumen dan perekonomian Amerika Serikat.
"Inilah jenis saran jelek nan diterima pemerintahan AS dari orang-orang seperti Bessent, nan juga mendorong teori blokade dan justru mendongkrak nilai minyak hingga di atas 120 dolar. Target berikutnya: 140. Masalahnya bukan pada teorinya, melainkan pada pola pikirnya," tutur laki-laki 64 tahun itu menambahkan.
Ghalibaf berdasar bahwa masalahnya bukan terletak pada konsep blokade, melainkan pada "pola pikir arogan" Washington nan meremehkan ketahanan Iran.
Unggahan ini menjadi bagian dari kampanye info aktif Ghalibaf dalam bahasa Inggris selama perang dengan AS berjalan sejak 28 Februari lalu.
Selama ini, Ghalibaf kerap mengeluarkan pernyataan tegas dan frontal, menampilkan sikap defiant di tengah negosiasi dengan AS nan mandek dan membikin pemerintahan Trump dikejar deadline dari Kongres soal kejelasan perang di Iran.
Kasus ini juga menyoroti gimana hukuman dan blokade dapat menimbulkan "dampak tak terduga", seperti kenaikan nilai daya global, sehingga tekanan ekonomi berubah menjadi pedang bermata dua.
Dikutip Gulf News, bagi pemerintah Iran, situasi ini memperkuat narasi ketahanan dan perlawanan. Sementara itu, bagi pasar dunia dan kreator kebijakan di AS, perihal ini menegaskan miskalkulasi perang nan pada akhirnya memicu akibat nan meluas ke seluruh dunia.
(rds)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·