Inspiratif, Nenek 77 Tahun Di Kotim Berangkat Haji Dari Hasil Mengaji Dan Menjahit

Sedang Trending 4 hari yang lalu

PROKALTENG.CO – Perjuangan panjang dan penuh kesabaran akhirnya membuahkan hasil bagi Endang (77), jamaah calon haji tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan penghasilan sederhana dari mengajar mengaji dan menjahit, dia sukses mewujudkan angan berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama bertahun-tahun.

Meski penghasilannya tak menentu, dia mempunyai tekat bulat untuk mendaftar haji.

Perjalanan itu dimulai sejak 2019. Saat itu, Endang memberanikan diri mendaftar dengan setoran awal Rp25,5 juta.

Bagi sebagian orang, nomor itu mungkin biasa. Namun bagi dirinya, itu adalah kumpulan tabungan dari kerja sederhana nan dia jalani setiap hari.

“Saya menunggu selama tujuh tahun. Saya mendaftar dari 2019, dan akhirnya berangkat tahun 2026,” ujarnya saat diwawancara usai dilepas secara resmi oleh Bupati Kotim, Halikinnor, Kamis (30/4/2026).

Tidak ada penghasilan tetap besar. Nenek nan sudah menjanda itu hanya mengandalkan bayaran mengajar mengaji dan menjahit.

Dari situ, dia menyisihkan sedikit demi sedikit. Sekitar Rp1 juta setiap bulan untuk menutup biaya haji nan kudu dipenuhi.

Electronic money exchangers listing

Ia tidak hanya menabung dari uang. Apa pun nan berbobot dia simpan. Bahkan pemberian orang pun menjadi bagian dari perjuangannya.

“Saya menabung. Dari hasil mengajar, dari menjahit. Ada orang kasih beras juga saya simpan,” katanya.

Perjalanan ekonomi nenek Endang mencerminkan realitas banyak jemaah haji di daerah. Ibadah nan sering dianggap mahal, rupanya bisa dicapai melalui tekad dan kesabaran.

Tidak ada nomor nan besar dalam penghasilannya, hanya konsistensi nan dijaga bertahun-tahun. Kini, setelah tujuh tahun, tabungan mini itu menjelma menjadi tiket menuju Tanah Suci.

Nenek Endang berangkat sendiri. Ini menjadi pengalaman pertamanya, apalagi dia mengaku belum pernah sekalipun menginjakkan kali di tanah suci.

“Saya berangkat sendiri. Ini pertama kali saya haji, umrah pun belum pernah,” ucapnya.

Soal persiapan, tidak ada perihal nan rumit. Ia hanya menjaga kondisi tubuh dengan langkah sederhana. Bersepeda setiap pekan. Meski badannya sudah tua, namun keinginannya tetap kuat.

Bagi nenek Endang, kekuatan utama bukan pada latihan fisik, tetapi pada niat nan dia jaga sejak awal.

“Tidak ada persiapan khusus. Saya hanya olahraga, bersepeda setiap minggu agar kuat,” katanya.

Di kembali keberangkatannya, ada cerita tentang ketekunan ekonomi skala kecil. Tentang gimana penghasilan sederhana bisa membawa seseorang melintasi jarak ribuan kilometer, menuju sebuah perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya.

Nenek Endang membuktikan, haji bukan hanya soal keahlian finansial besar, tetapi tentang kesabaran mengumpulkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya cukup untuk berangkat. (kpg)

PROKALTENG.CO – Perjuangan panjang dan penuh kesabaran akhirnya membuahkan hasil bagi Endang (77), jamaah calon haji tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan penghasilan sederhana dari mengajar mengaji dan menjahit, dia sukses mewujudkan angan berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama bertahun-tahun.

Meski penghasilannya tak menentu, dia mempunyai tekat bulat untuk mendaftar haji.

Perjalanan itu dimulai sejak 2019. Saat itu, Endang memberanikan diri mendaftar dengan setoran awal Rp25,5 juta.

Electronic money exchangers listing

Bagi sebagian orang, nomor itu mungkin biasa. Namun bagi dirinya, itu adalah kumpulan tabungan dari kerja sederhana nan dia jalani setiap hari.

“Saya menunggu selama tujuh tahun. Saya mendaftar dari 2019, dan akhirnya berangkat tahun 2026,” ujarnya saat diwawancara usai dilepas secara resmi oleh Bupati Kotim, Halikinnor, Kamis (30/4/2026).

Tidak ada penghasilan tetap besar. Nenek nan sudah menjanda itu hanya mengandalkan bayaran mengajar mengaji dan menjahit.

Dari situ, dia menyisihkan sedikit demi sedikit. Sekitar Rp1 juta setiap bulan untuk menutup biaya haji nan kudu dipenuhi.

Ia tidak hanya menabung dari uang. Apa pun nan berbobot dia simpan. Bahkan pemberian orang pun menjadi bagian dari perjuangannya.

“Saya menabung. Dari hasil mengajar, dari menjahit. Ada orang kasih beras juga saya simpan,” katanya.

Perjalanan ekonomi nenek Endang mencerminkan realitas banyak jemaah haji di daerah. Ibadah nan sering dianggap mahal, rupanya bisa dicapai melalui tekad dan kesabaran.

Tidak ada nomor nan besar dalam penghasilannya, hanya konsistensi nan dijaga bertahun-tahun. Kini, setelah tujuh tahun, tabungan mini itu menjelma menjadi tiket menuju Tanah Suci.

Nenek Endang berangkat sendiri. Ini menjadi pengalaman pertamanya, apalagi dia mengaku belum pernah sekalipun menginjakkan kali di tanah suci.

“Saya berangkat sendiri. Ini pertama kali saya haji, umrah pun belum pernah,” ucapnya.

Soal persiapan, tidak ada perihal nan rumit. Ia hanya menjaga kondisi tubuh dengan langkah sederhana. Bersepeda setiap pekan. Meski badannya sudah tua, namun keinginannya tetap kuat.

Bagi nenek Endang, kekuatan utama bukan pada latihan fisik, tetapi pada niat nan dia jaga sejak awal.

“Tidak ada persiapan khusus. Saya hanya olahraga, bersepeda setiap minggu agar kuat,” katanya.

Di kembali keberangkatannya, ada cerita tentang ketekunan ekonomi skala kecil. Tentang gimana penghasilan sederhana bisa membawa seseorang melintasi jarak ribuan kilometer, menuju sebuah perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya.

Nenek Endang membuktikan, haji bukan hanya soal keahlian finansial besar, tetapi tentang kesabaran mengumpulkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya cukup untuk berangkat. (kpg)

Sumber prokalteng