Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 18:17 WIB
Lansia mengikuti beragam aktivitas di Sekolah lansia Cucuk Hijau, lansia tetap berkekuatan di usia senja. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia selama puluhan tahun terbiasa berbincang tentang bingkisan demografi. Narasi nan dibangun selalu sama, jumlah penduduk usia produktif nan melimpah bakal menjadi mesin pertumbuhan ekonomi andaikan bisa dikelola dengan baik.
Namun perlahan, arah angin mulai berubah.
Anak-anak nan dulu memenuhi ruang kelas sekarang telah memasuki usia dewasa. Sementara mereka nan dulu menjadi tulang punggung pembangunan mulai memasuki masa pensiun. Indonesia sedang bergerak menuju wajah baru, masyarakat nan semakin menua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan itu berjalan tanpa suara. Tidak ada perayaan, tidak pula sirine nan berbunyi. Tetapi angkanya berbincang sangat jelas. Proporsi masyarakat lanjut usia sekarang telah melampaui 10 persen, pemisah nan secara internasional digunakan untuk menandai sebuah negara memasuki masyarakat menua.
Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase lansia telah mencapai 11,97 persen alias nyaris 34 juta jiwa. Bahkan pemerintah memperkirakan angkanya bakal terus meningkat hingga mendekati 30 persen pada 2045.
Artinya, dalam dua dasawarsa mendatang, nyaris satu dari tiga masyarakat Indonesia adalah lansia.
Sekretaris Utama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Budi Setiyono, menyebut Indonesia sekarang telah memasuki babak baru pembangunan.
"[Populasi lansia] kita sudah di atas 11 persen sehingga kita sudah masuk ageing population dan diperkirakan kelak sampai 2045 persentasenya bisa mencapai 30 persen," ujarnya.
Fenomena ini bukan sekadar soal bertambahnya orang berbulu putih. Ini menjadi penanda bahwa Indonesia sedang menghadapi perubahan demografi terbesar dalam sejarah modernnya.
Hadiah nan bisa berubah menjadi tantangan
Di satu sisi, meningkatnya jumlah lansia adalah berita baik. Itu berfaedah masyarakat hidup lebih lama.
Harapan hidup penduduk Indonesia sekarang mencapai 74,15 tahun. Kemajuan jasa kesehatan, perbaikan gizi, hingga meningkatnya kualitas hidup menjadi aspek krusial di kembali pencapaian tersebut.
Namun umur panjang juga membawa konsekuensi.
Semakin banyak orang nan hidup hingga usia lanjut berfaedah semakin besar pula kebutuhan jasa kesehatan, perlindungan sosial, akomodasi publik nan ramah lansia, hingga sistem perawatan jangka panjang.
Jika dulu negara sibuk memikirkan gimana menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda, sekarang tantangannya bergeser, gimana memastikan jutaan lansia tetap sehat, mandiri, dan mempunyai kualitas hidup nan baik.
Persoalannya bukan lagi sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan usia panjang itu tetap bermakna.
Baca lanjutannya di laman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·