PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus melakukan langkah antisipasi terhadap kenaikan nilai cabe nan terjadi di wilayah setempat menyusul adanya indikasi defisit komoditas cabe di sejumlah wilayah Indonesia berasas hasil rapat koordinasi pengendalian inflasi berbareng pemerintah pusat.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini mengatakan kenaikan nilai saat ini terutama terjadi pada cabe merah, sementara cabe rawit merah dan hijau juga menjadi perhatian lantaran sejumlah wilayah mengalami keterbatasan pasokan.
“Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi nan dipimpin langsung oleh Kementerian Dalam Negeri, ada beberapa catatan penting, salah satunya mengenai komoditas cabai. Beberapa wilayah mengalami defisit cabe rawit merah dan hijau, termasuk Kota Palangka Raya nan saat ini juga mengalami kenaikan nilai cabe merah,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, Kota Palangka Raya selama ini tetap berjuntai pada wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan komoditas pertanian, sehingga gangguan produksi dari wilayah pemasok berakibat terhadap nilai di pasaran lokal.
“Untuk cabe rawit merah dan hijau nan kecil, selama ini pasokannya berasal dari Kalimantan Selatan, tepatnya wilayah Hulu Sungai Utara dan Barabai. Kemungkinan di sana produksinya berkurang sehingga pasokan ke Palangka Raya juga menurun dan berakibat pada kenaikan harga,” ujarnya.
Pemko Palangka Raya berbareng Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pun telah melakukan koordinasi dengan sejumlah wilayah produsen guna memastikan kesiapan pasokan cabe tetap terjaga dan nilai dapat dikendalikan.
“TPID sudah melakukan beragam upaya, termasuk koordinasi dengan beberapa kabupaten produsen. Mudah-mudahan pasokan cabe ke Palangka Raya tetap tercukupi sehingga nilai bisa kembali stabil,” kata Zaini.
Dia menambahkan, untuk komoditas pangan lainnya kondisi di Kota Palangka Raya relatif tetap kondusif dan terkendali.
“Kalau komoditas nan lain, Alhamdulillah kondisi di Kota Palangka Raya tetap cukup baik,” pungkasnya. (adr)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus melakukan langkah antisipasi terhadap kenaikan nilai cabe nan terjadi di wilayah setempat menyusul adanya indikasi defisit komoditas cabe di sejumlah wilayah Indonesia berasas hasil rapat koordinasi pengendalian inflasi berbareng pemerintah pusat.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini mengatakan kenaikan nilai saat ini terutama terjadi pada cabe merah, sementara cabe rawit merah dan hijau juga menjadi perhatian lantaran sejumlah wilayah mengalami keterbatasan pasokan.
“Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi nan dipimpin langsung oleh Kementerian Dalam Negeri, ada beberapa catatan penting, salah satunya mengenai komoditas cabai. Beberapa wilayah mengalami defisit cabe rawit merah dan hijau, termasuk Kota Palangka Raya nan saat ini juga mengalami kenaikan nilai cabe merah,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, Kota Palangka Raya selama ini tetap berjuntai pada wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan komoditas pertanian, sehingga gangguan produksi dari wilayah pemasok berakibat terhadap nilai di pasaran lokal.
“Untuk cabe rawit merah dan hijau nan kecil, selama ini pasokannya berasal dari Kalimantan Selatan, tepatnya wilayah Hulu Sungai Utara dan Barabai. Kemungkinan di sana produksinya berkurang sehingga pasokan ke Palangka Raya juga menurun dan berakibat pada kenaikan harga,” ujarnya.
Pemko Palangka Raya berbareng Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pun telah melakukan koordinasi dengan sejumlah wilayah produsen guna memastikan kesiapan pasokan cabe tetap terjaga dan nilai dapat dikendalikan.
“TPID sudah melakukan beragam upaya, termasuk koordinasi dengan beberapa kabupaten produsen. Mudah-mudahan pasokan cabe ke Palangka Raya tetap tercukupi sehingga nilai bisa kembali stabil,” kata Zaini.
Dia menambahkan, untuk komoditas pangan lainnya kondisi di Kota Palangka Raya relatif tetap kondusif dan terkendali.
“Kalau komoditas nan lain, Alhamdulillah kondisi di Kota Palangka Raya tetap cukup baik,” pungkasnya. (adr)
3 minggu yang lalu


English (US) ·
Indonesian (ID) ·