Dua Siswa Sekolah Pinggiran Palangka Raya Lolos Ke Nasional Olimpiade Obor Langit

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Di tengah keterbatasan pembelajaran, dua siswa dari sekolah pinggiran Kota Palangka Raya: SDN 2 Petuk Katimpun melangkah jauh. Lewat Olimpiade Obor Langit mata pelajaran Bahasa Inggris, Theresa dan Desi membuktikan bahwa keahlian bukan soal fasilitas, tapi kemauan untuk belajar dan berani mencoba.

M RIFQI PADILA, Palangka Raya

RASA kaget tetap membekas di wajah Theresa Septi Dwitri (12) saat namanya diumumkan sebagai salah satu perwakilan menuju tingkat nasional dalam Olimpiade Obor Langit. Bagi siswi kelas 6 ini, pencapaian itu datang tanpa banyak dugaan.

“Jujur kaget. Senang, tapi juga bingung kenapa bisa terpilih,” ujarnya polos.

Namun di kembali itu, ada proses nan tak instan. Seleksi di sekolah menjadi pintu awal. Dari sejumlah murid, Theresa terpilih lantaran nilai nan paling tinggi. Dukungan family pun menjadi dorongan tambahan.

“Orang tua senang. Di family hanya saya sama kakakku nan bisa,” katanya. Motivasi awalnya pun sederhana apalagi condong jujur tanpa basa-basi. “Karena bingkisan dan juga pengalaman,” ucapnya sembari tersenyum.

Namun seiring proses berjalan, motivasi itu berubah. Ia mulai menyadari bahwa kejuaraan ini bukan sekadar soal hadiah, tapi juga keahlian dan pengalaman.

Electronic money exchangers listing

Persiapan dilakukan intens berbareng pembimbing di sekolah. Materi unik olimpiade diberikan, mulai dari pemahaman kosa kata hingga latihan soal. Tantangan pun datang saat menghadapi soal esai nan mengharuskan peserta mengenal budaya negara lain dalam bahasa Inggris.

“Itu susah, kudu hafal nama festival, makanan, dan ditulis dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.

Meski begitu, dia sukses menyelesaikan seluruh soal. Kini, menjelang tahap nasional di Malang, Theresa mengaku lebih siap baik dari sisi materi maupun mental.

“Di rumah sering belajar lagi, grammar juga. Kalau mental cukup percaya diri,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan Desi Tri Anggraini (10), siswa kelas 4 nan turut lolos ke tahap berikutnya dalam arena nan sama. Berbeda dengan Theresa, Desi mengaku awalnya hanya mau mencoba.

“Mau ikut saja dan cari pengalaman,” katanya singkat. Motivasinya pun tak jauh berbeda bingkisan menjadi salah satu argumen utama. Namun, di kembali kesederhanaan itu, ada kebiasaan belajar nan perlahan terbentuk.

Ia mengaku rutin belajar di rumah. Tujuannya sederhana: mau bisa berbincang bahasa Inggris.

“Biar bisa bicara bahasa Inggris,” ujarnya.

Meski mengaku tetap merasa gugup menghadapi tingkat nasional, Desi tetap berupaya mempersiapkan diri. Rasa takut dan deg-degan dianggap sebagai perihal nan wajar.

“Takut pasti ada, tapi tetap siap,” katanya.

Di kembali keberhasilan dua siswi ini, ada peran pembimbing nan membimbing mereka dari awal. Rizqa Aulia, pembimbing Bahasa Inggris di SDN 2 Petuk Katimpun, menjadi sosok nan mendampingi proses tersebut.

Ia menjelaskan, keikutsertaan sekolah bermulai dari undangan mengikuti Olimpiade Obor Langit mata pelajaran Bahasa Inggris. Dari situ, dilakukan seleksi internal untuk mencari siswa nan betul-betul siap.

“Kami pilih dua orang, satu kelas 6 dan satu kelas 4, nan memang punya dasar cukup baik,” ujarnya.

Dengan waktu persiapan nan terbatas sekitar dua minggu, latihan dilakukan secara intensif. Materi diberikan berasas kisi-kisi lomba, dengan pendekatan bertahap.

“Satu topik kudu betul-betul mengerti dulu, baru lanjut ke berikutnya. Kalau tidak, kelak mereka bisa blank saat lomba,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya penguasaan kosa kata sebagai kunci utama dalam bahasa Inggris, terutama untuk anak-anak.

Meski menghadapi keterbatasan waktu dan fasilitas, hasil nan diraih justru di luar dugaan. Kedua siswinya sukses masuk 12 besar dan berkuasa melaju ke tingkat nasional di Malang.

“Awalnya ragu, lantaran lawannya dari sekolah nan sehari-hari pakai bahasa Inggris. Tapi rupanya mereka bisa,” katanya.

Rasa bangga pun tak bisa disembunyikan. Bagi Rizqa, pencapaian ini menjadi bukti bahwa siswa dari sekolah dengan akomodasi terbatas pun bisa bersaing.

Ke depan, persiapan bakal ditingkatkan. Materi bakal lebih kompleks, latihan lebih intens, dan waktu belajar ditambah. Namun dia menegaskan, sasaran utama bukan semata kemenangan.

“Menang itu harapan, tapi bukan keharusan. nan krusial mereka dapat pengalaman dan tidak patah semangat,” ujarnya.

Di tengah segala keterbatasan, langkah Theresa dan Desi menjadi bukti sederhana: mimpi bisa dimulai dari mana saja. Dari ruang kelas biasa, dari latihan seadanya, hingga keberanian untuk mencoba.

Kini, perjalanan mereka bersambung ke Malang. Bukan hanya membawa nama sekolah, tapi juga angan bahwa dari Palangka Raya, anak-anak pun bisa bersaing di tingkat nasional. (*/ala/kpg)

Sumber prokalteng