Donald Trump Disebut 'ketagihan' Jalani Cek Kesehatan

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (79), belakangan ini menjadi sorotan lantaran gelombang kunjungan medisnya nan dinilai cukup sering. Hanya dalam waktu 13 bulan, Trump tercatat sudah menjadwalkan pemeriksaan kesehatan hingga tiga kali di Rumah Sakit Walter Reed.

Fenomena 'ketagihan' cek kesehatan ini akhirnya menuai pertanyaan publik. Mengapa seseorang nan berulang kali dinyatakan dalam 'kondisi kesehatan nan sangat baik' tetap terus kembali ke rumah sakit?

Dr Mehmet Oz (65), selaku Administrator Pusat Layanan Medicare and Medicaid AS, memberikan penjelasan sederhana tetapi menarik soal kebiasaan sang presiden tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pikir lantaran dia menyukai hasilnya," kata Dr. Oz dalam konvensi pers di Gedung Putih, dikutip dari laporan medis terkini.

Sifat Teliti dan Selalu Ingin Pantau Angka Medis

Menurut Dr Oz, Trump adalah sosok nan sangat teliti. Presiden AS itu selalu mau memastikan bahwa segala perihal nan berangkaian dengan kondisi tubuhnya melangkah ke arah nan benar.

Setiap kali pemeriksaan dilakukan, Trump selalu sukses melewati beragam tes dengan hasil nan memuaskan.

"Dia betul-betul baik-baik saja. Dia lulus tes setiap hari, dan saya betul-betul percaya bahwa dia mau memastikan semuanya melangkah ke arah nan benar," terang Dr Oz nan dikutip dari laman People.

"Dia adalah orang nan sangat teliti dalam banyak perihal nan sering kali kurang dihargai."

Rasa penasaran dan kemauan Trump untuk memantau parameter kesehatannya dinilai mirip, dengan kebiasaan komunikasinya sehari-hari nan perfeksionis.

"Tetapi baginya untuk mau mengetahui semua nomor dan terus memantau kondisinya, itu adalah argumen nan sama kenapa dia menelepon orang-orang di jam-jam nan tidak biasa lantaran ada sesuatu nan mengganggu pikirannya. Dia mau menanganinya," jelas Dr Oz.

Di Balik Heboh Foto Memar Tangan-Isu 'Tertidur' saat Rapat

Kesehatan bentuk Trump memang kerap memicu spekulasi, terutama setelah beberapa penampilan publiknya memperlihatkan adanya memar, riasan tebal, hingga perban untuk menutupi bercak-bercak gelap di tubuhnya.

Dokter pribadinya, Kapten Sean Barbabella, DO, menjelaskan memar Trump sebenarnya sesuai dengan iritasi jaringan lunak ringan. Kondisi ini berangkaian dengan seringnya bersalaman dalam konteks penggunaan aspirin untuk pencegahan kardiovaskular.

Trump sendiri secara blak-blakan mengakui bahwa dia mengonsumsi aspirin melampaui dosis rekomendasi master dengan argumen agar darahnya tetap encer. Efek samping dari pengencer darah dosis tinggi inilah nan membikin kulitnya mudah memar.

"Mereka bilang aspirin bagus untuk mengencerkan darah, dan saya tidak mau darah kental mengalir melalui jantung saya," kata Trump dalam wawancara berbareng The Wall Street Journal.

"Saya mau darah nan encer mengalir melalui jantung saya. Apakah itu masuk akal?" sambungnya.

Selain pengaruh aspirin, memar di tangannya juga sempat disebabkan oleh kejadian mini saat Konvensi Nasional Partai Republik 2024, di mana tangan Trump tidak sengaja terluka akibat terkena cincin Pam Bondi saat melakukan tos (high-five).

"Cincin itu mengenai punggung tangan saya, dan ya, ada sedikit luka," saya Trump nan terpaksa memakai riasan wajah (foundation) untuk menutupi jejak luka tersebut.

Tak hanya soal memar, Trump juga menjelaskan foto-foto viral nan menarasikan dirinya kerap tertidur di tengah-tengah rapat penting.

"Saya hanya bakal menutup [mata saya]. Itu sangat menenangkan bagi saya. Terkadang mereka bakal mengambil foto saya berkedip, berkedip, dan mereka bakal menangkap momen kedipan saya," sanggah Trump.

Sejauh ini, Trump tampaknya sangat puas dengan kondisi fisiknya nan prima di usia senja. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, dia dengan bangga menyatakan bahwa hasil pemeriksaan fisiknya melangkah dengan sangat 'sempurna'.

(sao/kna)

Sumber detik-health