Dolar As Tekan Rupiah, Industri Diminta Transaksi Pakai Uang Lokal

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta -

Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah turut berakibat bagi sektor industri. Di satu sisi perihal ini menjadi peluang, namun di sisi lain menimbulkan tekanan bagi industri nan tetap berjuntai pada bahan baku impor.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, bagi industri nan menggunakan bahan baku impor, pemerintah mengimbau pemanfaatan skema Local Currency Settlement (LCS) dari Bank Indonesia. Skema ini memungkinkan transaksi antarnegara menggunakan mata duit masing-masing.

"Memang betul untuk industri nan bahan bakunya impor, kami mengimbau agar memanfaatkan akomodasi Bank Indonesia, Local Settlement Transaction. Jadi, pembelian bahan baku menggunakan mata duit antara dua negara, misalkan dari negara A, bisa pakai mata duit negara A," kata Febri dalam konvensi pers di Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Febri menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah dapat menjadi kesempatan bagi industri meningkatkan daya saing di pasar global. Ia mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan momentum ini, khususnya dalam memperluas pasar ekspor.

"Momen ini bisa dimanfaatkan oleh industri untuk memperkuat alias untuk bisa melakukan penetrasi ekspor. Kalau selama ini industri-industrinya berorientasi pada pasar domestik, inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasar global," tuturnya.

Senada, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyebut pergerakan nilai tukar turut mempengaruhi daya saing produk Indonesia di luar negeri. Industri nan berbasis bahan baku domestik dinilai lebih diuntungkan lantaran produknya menjadi lebih kompetitif.

"Kalau mata uangnya itu makin kena tekanan, ekspor kita bakal bagus. Salah satu juga kenapa ekspor kita meningkat itu lantaran produk-produk kita makin bersaing di luar negeri. Itu untuk industri-industri nan bahan bakunya memang dari dalam negeri. Tadi, kertas dan produk-produk kertas. Produk-produk CPO dan turunannya lantaran daya saingnya luar biasa," jelas Putu.

Meski begitu, untuk industri nan tetap mengandalkan bahan baku impor, tekanan nilai tukar tetap menjadi perhatian. Namun, dampaknya sejauh ini belum signifikan lantaran sebagian besar kebutuhan bahan baku sudah dikontrak dalam jangka panjang dan telah tersedia di dalam negeri.

"Karena nan impor ini, ini kita pakai neraca komoditas. Dimana neraca komoditas itu sudah kontrak, jadi sudah perjanjian jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia. Sehingga, di sisi industri-industrinya tetap bisa dengan bahan baku nan ada. Masih belum terdampak walaupun kelak kita lihat perkembangannya," tutup Putu.

Dilansir Bloomberg, mata duit Paman Sam sukses menguat 83 poin alias 0,48% ke level Rp 17.326. Dolar AS makin perkasa, sementara rupiah turun ke level terendah sepanjang sejarah.

(ily/ara)

Sumber finance