Jakarta -
Rumah Sakit Muhammadiyah Sumatera Utara (Sumut) membantah dugaan malpraktik mengenai tuduhan pengangkatan rahim pasien tanpa izin. Tindakan operasi disebut sesuai prosedur dan persetujuan family pasien.
Kepala Bagian Umum RS Muhammadiyah Sumatera Utara, Ibrahim Nainggolan mengatakan pasien diketahui mempunyai miom dan sempat menunda operasi pada pertemuan pertama lantaran mengetahui ada akibat pengangkatan rahim.
Sekitar sebulan kemudian, pada pertemuan kedua, pasien kembali dan menyetujui tindakan operasi. Oleh lantaran itu, baik pihak RS dan pasien melanjutkan ke proses berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (pasien) menyatakan bersedia. Karena dia sudah menyatakan bersedia, seluruh, kemudian dilakukanlah pertemuan ketiga untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk semua manajemen dan langkah-langkah," kata Ibrahim dalam keterangannya dikutip 20D, Kamis (23/4/2026).
Awal Mula Tuduhan Malapraktik
Awalnya, seorang pasien asal Medan, Mimi Maisyarah (48) diduga jadi korban malpraktik di RS Muhammadiyah Sumatera Utara, ialah pengangkatan rahim tanpa izin.
Kuasa norma pasien, Ojahan Sinurat, mengatakan awal mula kejadian dugaan malpraktik ialah saat pasien mendapatkan rujukan ke RS Muhammadiyah. Setelah berjumpa dengan master ahli kandungan dan melakukan USG, disebut terdapat miom (tumor jinak) di tembok rahim pasien.
"Tanggal 13 Januari pasien dapat rujukan berobat ke RS Muhammadiyah. Nah, hasil dari USG, master mengatakan dia itu miom. Lalu di tanggal 24 Februari dilakukanlah pengangkatan miom itu," ujar Ojahan saat diwawancarai, dikutip detikSumut, Kamus (23/4/2026).
Namun, berselang dua hari setelah operasi pengangkatan miom, pasien mengeluh kesakitan di bagian perut dan kelamin. Ojahan menyebut, pasien juga mengalami pembengkakan di sekitar jejak operasi.
"Selang dua hari pasien mengeluhkan jangkitan dan keluar nanah, juga rasa sakit. Kemudian datanglah lagi ke RS tersebut, dirawat selama lima hari," kata Ojahan.
Keluhan ini tidak berkurang dalam waktu cukup lama, meskipun sudah mendapatkan perawatan berulang. Secara pribadi, pasien meminta untuk diberi rujukan ke RS Haji pada 14 April 2026. Setelah berjumpa master di sana (RS Haji), Mimi diminta untuk membawa hasil patologi anatomi.
"Tapi itu nggak pernah dikasih ke pasien. Jadi saat itu juga anak pasien datang ke RS Muhammadiyah untuk meminta itu, baru dikasih dan difoto si anak ke mamaknya ini. Di situlah baru tahu bahwa uterus dan ovarium sudah diangkat. Pasien enggak mengerti awalnya apa itu uterus dan ovarium, setelah dijelaskan baru tahu bahwa itu rahim," jelasnya.
(dpy/naf)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·