Dikit-dikit Tambah Keju, Sehatkah? Jelas Tidak, Kombinasi Ini Sebaiknya Dihindari

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Jakarta -

Bagi sebagian orang, nyaris semua makanan terasa lebih lezat setelah ditambahkan keju. Tak sedikit pula menu nan sengaja menawarkan ekstra keju, mulai dari mi instan, burger, hingga kentang goreng.

Namun, di kembali rasanya nan gurih dan creamy, keju tetap menyumbang kalori, lemak jenuh, dan natrium nan perlu diperhatikan. Karena itu, menambahkan keju ke beragam makanan sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama jika porsinya berlebihan alias dikombinasikan dengan makanan nan sudah tinggi kalori dan garam.

Lalu, gimana langkah menikmati keju dengan lebih bijak agar tetap bisa memperoleh faedah gizinya?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efek Penambahan Keju

Keju memang dapat menjadi sumber protein dan kalsium. Namun, penggunaannya sering kali menjadi kurang ideal ketika ditambahkan ke makanan nan sebenarnya sudah tinggi kalori, lemak, dan garam, seperti kentang goreng, burger, pizza, alias mi instan. Beberapa argumen kenapa kebiasaan ini perlu diperhatikan antara lain:

1. Menambah kalori dan mempermudah makan berlebihan

Menambahkan keju berfaedah menambah kalori pada makanan. Menurut publikasi oleh Barbara J. Rolls dalam jurnal Nutrition Reviews, makanan dengan kepadatan daya (energy density) nan tinggi condong membikin seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum merasa kenyang. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.

2. Menambah asupan lemak jenuh dan natrium

Banyak jenis keju mengandung lemak jenuh dan natrium. Ketika ditambahkan ke makanan sigap saji alias makanan ultra-proses nan kandungannya sudah tinggi, jumlah lemak jenuh dan natrium nan dikonsumsi pun ikut bertambah.

WHO merekomendasikan agar asupan lemak jenuh dibatasi hingga kurang dari 10 persen total daya harian. WHO juga menganjurkan pembatasan konsumsi natrium untuk membantu menurunkan akibat penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Selain itu, pola makan nan tinggi lemak jenuh dan natrium juga telah lama dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) alias "kolesterol jahat" serta tekanan darah pada sebagian orang. Karena itu, nan perlu diperhatikan bukan hanya jumlah keju nan dikonsumsi, tetapi juga makanan nan menjadi pasangannya.

Dengan kata lain, menambahkan keju ke burger, kentang goreng, alias mi instan sesekali tentu tidak bakal langsung menimbulkan masalah kesehatan. Namun jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus dan menjadi bagian dari pola makan sehari-hari, total asupan energi, lemak jenuh, dan natrium dapat meningkat melampaui kebutuhan tubuh.

Lebih Baik Dipadukan dengan Sumber Serat

Keju dapat menjadi bagian dari pola makan nan seimbang ketika dikonsumsi berbareng makanan kaya serat, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, maupun biji-bijian utuh.

Beberapa contoh kombinasi nan bisa dicoba antara lain salad sayur dengan taburan keju, roti gandum isi sayuran dan keju, omelet sayur dengan sedikit keju, alias keju nan dipadukan dengan buah segar seperti apel dan pir. Di Indonesia, keju juga bisa dipadukan dengan jagung rebus, kentang kukus, sandwich sayuran, alias tumisan sayur sebagai penambah rasa, tanpa kudu selalu menjadi pelengkap makanan sigap saji.

Dalam publikasi The Lancet pada 2019 dijelaskan, asupan serat nan lebih tinggi dikaitkan dengan akibat nan lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner, stroke, glukosuria jenis 2, dan kanker kolorektal. Salah satu alasannya, serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang dapat memperkuat lebih lama. Kondisi ini dapat membantu mengontrol asupan makanan secara keseluruhan.

Keju dan sayur alias buah juga mempunyai kandungan gizi nan saling melengkapi. Keju merupakan sumber protein, kalsium, fosfor, dan vitamin B12, sementara sayur dan buah menyediakan serat, vitamin, mineral, serta beragam senyawa fitokimia nan berkedudukan dalam menjaga kesehatan.

Karena itu, mengombinasikan keju dengan sayur alias buah dapat membantu menciptakan hidangan dengan profil gizi nan lebih beragam. Seseorang tidak hanya memperoleh protein dan kalsium dari keju, tetapi juga mendapatkan serat dan beragam mikronutrien nan tidak banyak ditemukan dalam keju.

Meski demikian, keju tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar. Sebagai gambaran, satu porsi keju umumnya sekitar 30 gram alias setara dengan satu pangkas mini keju keras seperti cheddar.

Konsep ini sejalan dengan pendekatan gizi modern nan menekankan pentingnya pola makan secara keseluruhan dibandingkan berfokus pada satu jenis makanan. Artinya, faedah kesehatan tidak ditentukan oleh keju saja, melainkan oleh kombinasi makanan nan dikonsumsi berbareng serta pola makan sehari-hari secara keseluruhan.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Sumber detik-health