Di Mana Taman Eden Berada? Lokasinya Jadi Perdebatan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Taman Eden adalah tempat dalam Alkitab nan dipercaya sebagai letak pertama manusia diciptakan. Adakah bukti secara ilmiah nan dapat menunjukkan di mana Taman Eden berada?

Dua manusia pertama ialah Adam dan Hawa diyakini menjelajahi surga ini sampai seekor ular nan licik dan buah terlarang menjerumuskan mereka ke dalam masalah besar. Kepercayaan tentang Taman Eden melekat pada Umat Kristiani dan Yudaisme.

Mengenai letak taman tersebut, dijelaskan dalam Kejadian 2:10-14 sebagai berikut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

Yang pertama, namanya Pison, ialah nan mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.

Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.

Nama sungai nan kedua adalah Gihon, ialah nan mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai nan ketiga adalah Tigris, ialah nan mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai nan keempat adalah Efrat.

Melansir IFLScience, kuncinya di sini adalah bahwa letak tersebut berada di tempat pertemuan empat sungai. Kita juga mengenal dua sungai ini saat ini: Tigris dan Efrat, nan bermulai di Turki sebelum mengalir melalui Suriah dan Irak dan bermuara di Teluk Persia.

Namun, tidak jelas apa nan dimaksud dengan Pishon dan Gihon. Selama berabad-abad, beberapa teolog memperkirakan bahwa nama-nama tersebut mungkin merujuk pada Sungai Gangga di India dan Sungai Nil di Mesir, meskipun nan lain mencatat bahwa perihal ini bakal mencakup sebagian besar wilayah Bumi.

John Calvin, teolog abad ke-16 nan dikenal lantaran perannya dalam Reformasi Protestan pendapatnya soal teori ini.

"Banyak nan berpikir bahwa Pishon dan Gihon adalah Sungai Gangga dan Sungai Nil; namun, kesalahan orang-orang ini dengan jelas dibantah oleh jarak posisi sungai-sungai ini. Tidak sedikit orang nan terbang menyeberang apalagi sampai ke Sungai Danube; seolah-olah tempat tinggal seseorang membentang dari bagian paling terpencil di Asia hingga ujung Eropa," ujarnya.

Kendati demikian, berasas penyebutan Sungai Tigris dan Efrat, kita dapat berasumsi bahwa Taman Eden mengambil inspirasi dari suatu wilayah di Irak dan Iran tempat kedua sungai ini berjumpa di dekat Teluk Persia. Secara khusus, ada sebuah sungai di perbatasan Iran-Irak nan disebut Shatt Al-Arab nan terbentuk di pertemuan sungai Efrat dan Tigris.

Para pseudoarkeolog senang menyatakan telah menemukan Taman Eden, tetapi pernyataan berani ini selalu runtuh pada akhirnya. Kisah-kisah tersebut menjadi buletin utama viral tetapi tidak pernah didukung oleh bukti nan kuat. Misalnya, tidak ada artefak nan terverifikasi alias info nan kredibel.

Seringkali diklaim bahwa Taman Eden mempunyai beberapa kaitan dengan Piramida Giza di Mesir, tetapi klaim tersebut tidak mempunyai dasar dalam arkeologi alias bukti sejarah nan dapat dipertanggungjawabkan.

Taman Eden di Afrika?

Dari perspektif pandang ilmiah, jika kita percaya bahwa Taman Eden melambangkan asal usul manusia, maka kita mungkin kudu memperhatikan Afrika.

Yang disebut sebagai 'Tempat Lahir Umat Manusia' dapat ditemukan di Afrika Selatan, sekitar 50 kilometer barat laut Johannesburg. Situs ini merupakan rumah bagi konsentrasi terbesar sisa-sisa leluhur manusia di dunia. Di antara ribuan fosil nan ditemukan di sini, para peneliti telah menemukan sisa-sisa Australopithecus, jenis manusia purba mirip monyet nan berumur sekitar 3,4 hingga 3,7 juta tahun.

Baru sekitar 200.000 hingga 300.000 tahun nan lampau Homo sapiens modern berevolusi.

Sekali lagi, Afrika adalah letak perkembangan ini, dengan manusia modern kemungkinan besar pertama kali muncul di sekitar Ethiopia modern.

Jadi, jika kita mencari Taman Eden secara ilmiah, tampaknya Afrika Selatan dan Ethiopia adalah pilihan terbaik. Akan tetapi, apakah situs-situs ini dulunya merupakan surga tempat empat sungai bertemu, tetap perlu dibuktikan.


(ask/ask)

Sumber detik-inet