Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir Yang Alami Gangguan Jiwa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebijakan pemisahan penduduk kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan, nan dikenal dengan apartheid, dibuat oleh Perdana Menteri Hendrik Verwoerd.

Dia adalah perdana menteri berkulit putih kelahiran Amsterdam, Belanda nan dilantik pada 1958.

Ayahnya adalah seorang pemilik toko dan seorang nan sangat religius nan memutuskan untuk pindah ke Afrika Selatan pada tahun 1903 lantaran simpatinya terhadap bangsa Afrikaner setelah Perang Afrika Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluarga Verwoerd menetap di Wynberg, Cape Town selama sepuluh tahun, setelah itu mereka pindah ke Bulawayo, Rhodesia di mana Verwoerd senior menjadi asisten penginjil di Gereja Reformasi Belanda.

Setelah empat tahun mereka kembali ke Afrika Selatan dan menetap di Brandfort, di Negara Bagian Oranye, seperti tercatat dalam laman sahistory.org.

Selama memimpin Afrika Selatan, dia memberlakukan kebijakan apartheid, sebuah sistem segregasi rasial membagi golongan etnis di negara nan sangat merugikan penduduk pribumi.

Sebagai perdana menteri sejak tahun 1958, dia melembagakan sistem norma rasis nan rumit nan memisahkan orang kulit putih, Afrika (Kulit Hitam), Kulit Berwarna, dan Asia, dan memindahkan orang kulit hitam ke reservasi terpencil.

Kebijakannya nan memandang rendah bangsa kulit hitam, diikuti dengan menangkap para pemimpin anti-apartheid seperti Nelson Mandela dan menjatuhkan balasan penjara nan lama kepada mereka berasas beragam dakwaan.

Namun pada sore hari tanggal 6 September 1966, dalam sebuah aktivitas Parlemen Afrika Selatan nan seluruh anggotanya berkulit putih, dia ditikam hingga tewas oleh seorang kurir berjulukan Demetrio Tsafendas, imigran Mozambik keturunan campuran Yunani dan sebagian Swazi.

"Itu adalah hari nan bakal dikenang penduduk Afrika Selatan selama beberapa dasawarsa mendatang. Pukul dua lewat seperempat, seorang utusan Parlemen tiba-tiba bergegas masuk ke ruangan. Dengan seragam resminya, dia pasti tidak banyak diperhatikan."

"Tetapi kemudian utusan itu-yang kemudian digambarkan sebagai "seorang laki-laki tinggi, kuat, berbulu abu-abu berumur akhir 40-an"-mengeluarkan pisau dan menusuk Verwoerd empat kali di dada dan lehernya. Perdana Menteri itu terhuyung ke depan, darah mengalir deras dari tubuhnya. Pada saat rekan-rekan Verwoerd sukses menangkap si pembunuh-seorang laki-laki separuh Yunani, separuh Afrika-Amerika nan sakit jiwa berjulukan Dimitri Tsafendas-karpet sudah bergelimang darah. Verwoerd meninggal sebelum sampai di rumah sakit," demikian catatan dari situs History.

Namun, Tsafendas bukan bertindak atas dasar protes terhadap apartheid. Dia mengalami gangguan jiwa hingga dikirim ke rumah sakit jiwa di dekat Johannesburg, tempat dia tinggal hingga kematiannya pada tahun 1999.

Meski sang arsitek telah tewas, kebijakan apartheid tetap dipertahankan oleh para penerus Hendrik hingga beberapa dasawarsa kemudian.

Apartheid baru dihapuskan di Afrika Selatan pada tahun 1993. Salah satu sosok nan kemudian dibebaskan dari penjara adalah Nelson Mandela nan kemudian menjadi pemimpin Afrika Selatan pertama dari kulit hitam. Ia menjabat dari tahun 1994 hingga 1999.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional