Darurat Wabah Ebola, Uganda Larang Warga Jabat Tangan Hingga Pelukan

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan Uganda melarang penduduk bersalaman dan berpelukan usai dua kasus Ebola terkonfirmasi di negara itu.

Sekretaris Tetap di Kemenkes, Diana Atwine, mengatakan pada Selasa (19/5) bahwa masyarakat hendaknya mematuhi langkah-langkah pencegahan, termasuk menghindari melakukan kontak bentuk nan tidak perlu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang-orang kudu berakhir saling bersalaman ... virus ini menyebar lewat kontak fisik," kata Atwine dalam konvensi pers, seperti dikutip The Telegraph.

Kemenkes Uganda juga menganjurkan masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun, menggunakan antiseptik, dan segera melapor andaikan mengalami indikasi apa pun, termasuk demam, muntah, dan pendarahan.

Uganda mendeteksi dua kasus Ebola nan mengenai pandemi di Republik Demokratik Kongo. Kongo dilanda pandemi Ebola strain Bundibugyo hingga 130 orang meninggal bumi dan setidaknya 500 orang diyakini terinfeksi.

Ini merupakan strain langka nan belum ditemukan vaksin maupun obatnya.

Salah satu pasien di Uganda, ialah laki-laki berumur 59 tahun, meninggal pada Kamis (14/5), sedangkan pasien kedua tetap diisolasi dan dipantau secara ketat.

Tiga negara di Asia Tenggara sudah mulai memperketat perbatasan sebagai respons terhadap pandemi ini.

Thailand, Vietnam, dan Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap rumah sakit dan bandara, sembari memantau dengan jeli pos pemeriksaan karantina perbatasan.

Sejauh ini belum ada kasus nan terdeteksi di ketiga negara ASEAN.

Para mahir kesehatan internasional mengaku telah lengah setelah pengawasan di Kongo kandas mengidentifikasi penyakit mematikan itu hingga Ebola menyebar dalam beberapa minggu.

Epidemi ini dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat "yang menjadi perhatian internasional" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (16/5), dan disebut sebagai peristiwa "luar biasa".

Kurangnya perangkat uji untuk strain Bundibugyo dan sulitnya beraksi di provinsi perbatasan Ituri selaku pusat pandemi membikin para pejabat kesehatan meyakini bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

"Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Pemerintah Uganda memutuskan menunda seremoni Hari Martir pada 3 Juni lantaran kekhawatiran bakal penularan Ebola lintas batas.

Ini merupakan aktivitas nasional nan biasanya dihadiri ribuan peziarah dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Lebih dari satu juta peziarah biasanya berkumpul di Kuil Katolik Para Martir Uganda di Namugongo, Uganda tengah, di mana banyak orang minum dan mandi di air nan diyakini mempunyai faedah penyembuhan.

Kemenkes Uganda cemas rakyat Kongo bakal beramai-ramai datang ke Namugongo lantaran beranggapan air kuil dapat menyembuhkan mereka.

(blq/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional