Ada ironi dalam perjalanan Jessi Febria. Perempuan nan sekarang membangun aplikasi navigasi indoor untuk tunanetra itu justru sempat tidak betul-betul memandang potensi teknologi. Semuanya berubah setelah dia mengenal lebih dalam ekosistem Apple, dan kisahnya sekarang menjadi inspirasi.
Semuanya bermulai dari sebuah iPhone 7 jejak nan dia beli dari temannya pada 2017, saat tetap SMA. Bagi remaja nan tumbuh di Bawen, Kabupaten Semarang nan jauh dari hiruk pikuk bumi teknologi, mempunyai perangkat Apple saja sudah terasa seperti mimpi nan menjadi kenyataan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kala itu, iPhone tersebut dia gunakan sekadar untuk chatting dan memotret. "Momen itu membahagiakan dan device tersebut sangat saya sayangi," kenang Jessisaat berbincang dengan detikINET.
Tapi dia sendiri mengakui, saat itu belum banyak dia eksplorasi potensi teknologi nan ada di dalamnya.
Mimpi Kedua di Apple Developer Academy
Giliran mimpi berikutnya datang empat tahun kemudian. Pada 2021, Jessi diterima di Apple Developer Academy @BINUS Tangerang. Program ini menjadi titik kembali nan memperkenalkannya pada ekosistem Apple secara menyeluruh-mulai dari iPhone, MacBook, hingga Apple Watch.
Namun bukan sekadar perangkat nan mengubah pandangannya. Dalam salah satu sesi, Jessi diperkenalkan pada fitur aksesibilitas Apple. Ia menyaksikan gimana pengguna tunanetra dapat menggunakan perangkat secara mandiri, selama aplikasi dirancang dengan prinsip aksesibilitas.
Jessi, Co-Founder PetaNetra Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
"Saya tetap ingat momen di mana saya kagum," ujar Jessi. "Saya berasal dari wilayah nan condong tetap sederhana dan tidak banyak exposure teknologi. Saat mengetahui perihal tersebut, ini membikin saya kagum sekaligus mempunyai mimpi untuk dapat menciptakan sesuatu nan membantu teman-teman disabilitas."
Dari mimpi itulah PetaNetra lahir, aplikasi navigasi indoor nan dirancang unik untuk pengguna tunanetra. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi Augmented Reality untuk membantu pengguna menavigasi ruang dalam ruangan secara lebih mandiri.
ARKit: Fondasi nan Mengubah Segalanya
Di kembali PetaNetra, ada satu teknologi Apple nan Jessi sebut paling game-changing: ARKit. Framework ini memungkinkan tim PetaNetra membangun pengalaman tiga dimensi berbasis Augmented Reality, nan menjadi tulang punggung sistem navigasi indoor mereka.
Bagi Jessi, ARKit bukan sekadar alat. Menurutnya ini bukti bahwa Apple tidak membangun platform secara separuh hati.
"ARKit sangat reliable dan termasuk nan paling maju di area spatial computing," jelasnya.
Jessi, PetaNetra Foto: doc Pribadi
Selain itu, Jessi juga mengapresiasi fitur VoiceOver sebagai salah satu penemuan paling berkesan. Screen reader bawaan Apple ini dinilai memberikan pengalaman pengguna nan sangat lembut dan intuitif.
Fitur lain seperti Sound Recognition juga menjadi bukti bahwa Apple serius memikirkan golongan disabilitas secara menyeluruh, bukan hanya satu segmen saja.
Bahkan fitur nan awalnya dia ragukan pun akhirnya membuktikan nilainya. Vehicle Motion Cues, nan dirancang untuk mengurangi mabuk perjalanan saat menggunakan ponsel di dalam kendaraan, sempat Jessi anggap terlalu sepele untuk betul-betul bekerja.
"Setelah dicoba, rupanya sangat membantu, dan sekarang selalu saya gunakan," akunya.
Dari Alumni ke Mentor
Kini, Jessi tidak hanya menjadi pengguna dan developer dalam ekosistem Apple. Ia juga menjadi mentor di Apple Developer Academy - posisi nan memberinya perspektif unik untuk memandang gimana Apple membangun ekosistem developer di Indonesia dari dua sisi sekaligus.
Menurutnya, perhatian Apple terhadap developer Indonesia sudah terasa sejak awal program ini hadir, dan semakin besar seiring waktu. Salah satu momen nan dia kenang dengan hangat adalah kunjungan CEO Apple Tim Cook ke Indonesia pada 2024, di mana Jessi dan tim PetaNetra berkesempatan mempresentasikan karya mereka secara langsung.
"Sejak awal Apple sudah menunjukkan perhatian nan baik terhadap developer Indonesia, dan sekarang kontribusinya semakin besar," katanya.
Jessi dan tim PetaNetra berbareng CEO Apple Tim Cook Foto: doc Pribadi
Dengan sekarang ada lima Apple Developer Academy nan tersebar di Indonesia, dampaknya pun semakin luas. Academy, kata Jessi, bukan sekadar tempat belajar coding. Ia adalah pintu - terutama bagi mereka yang, seperti Jessi dulu, tidak berasal dari universitas top alias kota besar.
"Kontribusi terbesarnya adalah membuka akses terhadap teknologi sekaligus membentuk kemampuan, baik secara technical maupun soft skills, nan sangat relevan dengan kebutuhan industri," ujarnya.
50 Tahun Apple, dan Harapan nan Belum Terwujud
Di momen 50 tahun Apple, Jessi memilih dua kata untuk menggambarkan perjalanan perusahaan itu: dream big. Baginya, Apple selalu identik dengan keberanian bermimpi - sebuah nilai nan dia rasakan sendiri, dari anak SMA nan membeli iPhone jejak hingga co-founder aplikasi nan membantu tunanetra menavigasi dunia.
Namun di kembali apresiasi itu, ada angan konkret nan dia titipkan. nan pertama adalah soal infrastruktur.
Jessi berambisi Apple suatu hari mendirikan Apple Developer Center di Jakarta, lantaran pusat terdekat saat ini tetap berada di Singapura. Bagi developer Indonesia nan mau mengakses sumber daya dan support teknis secara langsung, jarak itu tetap terasa jauh.
Yang kedua - dan ini dia sampaikan dengan penuh penekanan - adalah soal support aksesibilitas dalam bahasa Indonesia. Meski platform Apple sudah sangat kuat dari sisi support aksesibilitas, potensinya belum sepenuhnya terjangkau oleh pengguna Indonesia.
Jessi dan tim PetaNetra Foto: doc Pribadi
Namun tantangan terbesar, menurut Jessi, justru bukan dari Apple. Ia lebih mengkhawatirkan sikap developer lokal nan kerap membangun aplikasi tanpa memikirkan pengguna disabilitas sama sekali.
"Platform support-nya sudah sangat besar, namun banyak aplikasi karya developer Indonesia justru nan tidak accessible lantaran dari developer-nya nan tidak memikirkan itu," tegasnya.
"Saya mau membujuk teman-teman developer untuk Think Different: gimana jika aplikasi kalian digunakan oleh kawan disabilitas?"
Mengutip Tim Cook nan pernah menyatakan bahwa aksesibilitas adalah kewenangan fundamental, Jessi berambisi nilai itu tidak hanya menjadi janji di atas panggung, tapi menjadi standar nan betul-betul diinternalisasi oleh seluruh organisasi developer - termasuk, dan terutama, mereka nan ada di Indonesia.
Dari Bawen ke Tangerang, dari iPhone 7 jejak ke ARKit, dari pengguna ke mentor - perjalanan Jessi Febria adalah bukti bahwa mimpi besar tidak memerlukan titik awal nan sempurna. Hanya butuh platform nan tepat, dan keberanian untuk melangkah.
(afr/afr)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·