Daftar Pantangan 1 Suro Yang Diyakini Membawa Sial Jika Dilanggar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 15 Jun 2026 18:30 WIB

Tradisi 1 Suro. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/YU) Ilustrasi. Karena sifatnya nan sakral, sebagian masyarakat tetap mempercayai beragam larangan 1 Suro. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan sekadar penanda tahun baru, melainkan juga momen nan sarat makna spiritual dan budaya.

Karena dianggap sakral, beragam tradisi dan kepercayaan tetap dijalankan hingga kini, termasuk sejumlah larangan nan diwariskan secara turun-temurun. Berikut larangan 1 Suro nan dipercaya oleh masyarakat Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Malam 1 Suro merupakan awal tahun baru dalam almanak Jawa nan bertepatan dengan 1 Muharam dalam almanak Hijriah. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 nan diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Namun, lantaran pergantian hari dalam tradisi Jawa dimulai sejak malam sebelumnya, maka malam 1 Suro dimulai pada Senin malam, 15 Juni 2026.

Menurut laman Muhammadiyah Jawa Tengah, bulan Muharam sebaiknya disambut dengan memperbanyak ibadah, doa, puasa sunah, dan berbagi kepada sesama.

Sementara itu, beragam ritual dan larangan nan berkembang di masyarakat merupakan warisan budaya nan terus dilestarikan hingga saat ini.

Pantangan 1 Suro

Berikut larangan 1 Suro nan diyakini dapat membawa kesialan jika dilanggar, sebagaimana dikutip dari jurnal "Larangan Beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta" (2023) karya Riskha Nadia Ayuputri.

1. Menggelar hajatan

Mengadakan aktivitas besar seperti pernikahan, pesta, alias syukuran pada bulan Suro dianggap kurang tepat. Bulan ini dipandang sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk seremoni nan meriah.

2. Melakukan perjalanan jauh

Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa berjalan jauh pada bulan Suro dapat membawa akibat alias musibah. Kepercayaan ini berangkaian dengan dugaan bahwa bulan Suro merupakan waktu nan penuh daya spiritual sehingga perjalanan jauh sebaiknya ditunda demi keselamatan.

3. Berkonflik alias bertengkar

ilustrasi pasanganIlustrasi. Bertengkar, salah satu larangan 1 Suro. (iStockphoto)

Salah satu larangan 1 Suro nan cukup dikenal adalah menghindari pertengkaran. Masyarakat percaya bulan Suro mempunyai nilai spiritual nan tinggi sehingga suasana tenteram dan selaras perlu dijaga.

Konflik dianggap dapat mengganggu keseimbangan jiwa dan ketenangan selama bulan tersebut.

4. Keluar rumah pada malam hari

Dalam sejumlah kepercayaan masyarakat Jawa, keluar rumah pada malam 1 Suro sebaiknya dihindari. Ada dugaan bahwa malam tersebut mempunyai suasana nan sakral sehingga lebih baik digunakan untuk berdiam diri, berdoa, alias melakukan perenungan di rumah.

5. Tenggelam dalam aktivitas duniawi

Bulan Suro sering dimaknai sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, berpuasa, berdoa, dan melakukan refleksi diri. Karena itu, aktivitas nan terlalu berorientasi pada kesenangan duniawi dianggap kurang sesuai dengan suasana spiritual nan melekat pada bulan tersebut.

6. Membangun alias pindah rumah

Sebagian masyarakat percaya bahwa membangun rumah alias beranjak tempat tinggal pada malam 1 Suro dapat mendatangkan kesialan. Aktivitas tersebut dianggap kurang selaras dengan suasana sakral nan menyelimuti malam pergantian tahun Jawa.

7. Berisik dan berbicara kasar

Menjaga sikap dan ucapan juga menjadi bagian dari larangan 1 Suro. Tradisi seperti tapa bisu mubeng beteng mengajarkan pentingnya mengendalikan diri dengan menjaga lisan dan menghindari perkataan kasar. Berbicara keras alias membikin keributan dianggap tidak sejalan dengan nilai kesakralan malam tersebut.

Pantangan 1 Suro nan berkembang di masyarakat hingga saat ini pada dasarnya merupakan bagian dari tradisi dan budaya Jawa nan diwariskan secara turun-temurun. Meski tetap dipercaya oleh sebagian kalangan, beragam larangan tersebut tidak mempunyai dasar unik dalam aliran Islam.

Karena itu, masyarakat dapat menyikapinya secara bijak dengan tetap menghormati nilai budaya sekaligus memperbanyak ibadah dan kebaikan dalam menyambut datangnya bulan Muharam alias bulan Suro.

(gas/asr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-edu