Jakarta, CNN Indonesia --
Raja Inggris Charles III membalas ocehan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal penggunaan bahasa saat pidato di hadapan personil Kongres pada Selasa (28/4).
"Anda baru-baru ini berkomentar, jika bukan lantaran Amerika Serikat, negara-negara Eropa bakal berbincang bahasa Jerman," kata Charles di Capitol Hill.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia lalu membalas, "Jika bukan lantaran kami, Anda bakal berbincang bahasa Prancis."
Pernyataan itu kemudian diikuti gelak tawa audiens. Dalam video nan beredar, Trump juga terlihat menggerakkan posisi badan sembari tersenyum.
AS pernah menjadi koloni Inggris sekitar 1607. Kemudian pada 1776, mereka melepaskan diri dan mendeklarasikan kemerdekaan. Di masa-masa itu, sejumlah negara mengekspansi hingga menjajah negara lain untuk memperluas wilayah kekuasaan tak terkecuali Jerman dan Prancis.
Relasi AS-Inggris
Charles kemudian menjabarkan hubungan AS-Inggris dan rakyatnya lebih dari sekedar 250 tahun, tetapi empat abad.
Dalam pidatonya, dia juga menekankan relasi AS-Inggris di era nan lebih bergejolak.
"Kita berjumpa di masa-masa penuh ketidakpastian, di masa-masa bentrok dari Eropa hingga Timur Tengah nan menimbulkan tantangan besar," kata Charles, dikutip BBC.
Charles juga mengenang kembali sang ibu Elizabeth II nan juga pernah pidato di hadapan Kongres AS di dasawarsa sebelumnya.
"Hari ini saya berada di sini pada kesempatan besar dalam kehidupan bangsa kita untuk menyampaikan rasa hormat dan persahabatan tertinggi rakyat Inggris kepada rakyat Amerika Serikat," ucap dia, dikutip AP News.
Kemitraan AS dan Inggris, kata Charles, berasal dari perselisihan tetapi punya kesamaan pandangan seperti nilai-nilai demokrasi, hukum, hingga sosial.
"Dengan merujuk pada nilai-nilai dan tradisi ini, berulang kali, kedua negara kita selalu menemukan langkah untuk bersatu," ungkap raja Inggris ini.
Dia juga menyoroti blok militer Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Charles menyerukan kudu ada support untuk aliansi itu demi menjaga Amerika Utara dan Eropa dari musuh.
AS di bawah pemerintahan Donald Trump berulang kali menyerukan penarikan negara ini dari NATO. Seruan ini kian menggema, saat dia merasa negara sekutunya tak membantu dalam perang melawan Iran.
Namun, Charles seperti mau menegaskan bahwa Inggris tak meninggalkan AS. Ia lantas memberi contoh peran London dan NATO dalam perang Ukraina, setelah kejadian 9/11, perang di Afghanistan, Perang Dunia, serta momen nan berurusan dengan keamanan.
"Tekad nan sama dan tak tergoyahkan dibutuhkan untuk memihak Ukraina dan rakyatnya nan paling berani," ungkap anak Elizabeth itu.
Charles lali berujar, "Tekad itu juga dibutuhkan untuk mengamankan perdamaian nan betul-betul setara dan abadi." Inggris, lanjut dia, juga berkomitmen untuk meningkatkan pengeluaran militer.
"Negara kita, agar siap menghadapi masa depan, telah berkomitmen untuk melakukan peningkatan pengeluaran pertahanan terbesar dan berkepanjangan sejak Perang Dingin," imbuh raja Inggris itu.
Sepanjang pidato, tercacat 12 kali Charles mendapat tepuk tangan meriah dari Kongres. Pidato Charles muncul saat relasi AS dan Inggris tegang dalam beberapa waktu terakhir.
Trump sempat meminta negara sekutunya membantu perang di Iran, tetapi London menolak. Kehadiran Charles di AS menjadi semacam upaya Inggris menghidupkan relasi-relasi nan sudah ada sebelumnya.
(isa/dna)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·