Cegah Stunting, Bkkbn Target 1 Juta Keluarga Masuk Program Genting

Sedang Trending 13 jam yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 15:30 WIB

Petugas posyandu memeriksa balita di Posyandu Melati, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha Larasa) Ilustrasi. Kemendukbangga/BKKBN menargetkan sekitar 1 juta family masuk dalam program GENTING sebagai upaya untuk menurunkan stunting di Indonesia. (CNN Indonesia/Febria Adha Larasa)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menargetkan sekitar 1 juta family masuk dalam program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) sebagai upaya mempercepat penurunan stunting di Indonesia.

Program tersebut menyasar family akibat stunting (KRS) dari golongan desil 1 alias family miskin, terutama ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, dan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastuningsih mengatakan, berasas hasil verifikasi Pendataan Keluarga 2025, terdapat sekitar 41,4 juta family nan mempunyai pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, alias balita.

Dari jumlah tersebut, sekitar 8,1 juta family teridentifikasi sebagai family akibat stunting. Sementara sekitar 1,05 juta di antaranya masuk kategori KRS desil 1 alias family miskin nan menjadi sasaran utama program GENTING.

"Dari 8 juta sekian ini, kemudian disaring untuk desil 1, artinya ini adalah family miskin, itu ada kurang lebih 1 juta keluarga," kata Yuni dalam obrolan di Kantor BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (20/5).

Menurut Yuni, satu juta family tersebut sekarang menjadi konsentrasi utama program GENTING nan sebelumnya masuk kategori quick win dan sekarang ditetapkan sebagai program prioritas.

"Nah, saat itu family inilah nan menjadi konsentrasi Kemendukbangga untuk menjadi sasaran program aktivitas orang tua asuh cegah stunting alias GENTING," ujarnya.

Ia menjelaskan, program GENTING dijalankan melalui pendekatan gotong royong dengan melibatkan masyarakat sebagai orang tua asuh bagi family akibat stunting, utamanya pada 1.000 hari pertama kehidupan nan menjadi periode krusial dalam pencegahan stunting.

BKKBN mencatat, family akibat stunting ditentukan berasas sejumlah indikator, mulai dari tidak mempunyai jamban layak, akses air minum nan tidak aman, hingga kondisi '4 terlalu' seperti melahirkan terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, alias mempunyai anak terlalu banyak.

"Yang pertama adalah family ini tidak mempunyai jamban nan layak, itu ada 2,9 jutaan. Kemudian family ini tidak mempunyai air minum utama nan layak, itu jumlahnya ada 1,7 juta," ujar Yuni.

Stunting sendiri tetap menjadi perhatian serius pemerintah meski prevalensinya terus menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, pemerintah menargetkan nomor stunting turun hingga di bawah 10 persen pada 2030 dan kurang dari 5 persen menuju Indonesia Emas 2045.

"Walaupun trennya sudah menurun, prevalensi stunting di 2025 kemarin mencapai 18,8 persen, tetapi kita juga terus melakukan upaya-upaya agar ada capaian nan lebih signifikan di tahun nan datang," ujarnya.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle