Capsule Wardrobe Dan Ide Keberlanjutan, Bisakah Berjalan Beriringan?

Sedang Trending 12 jam yang lalu

rti | CNN Indonesia

Jumat, 05 Jun 2026 19:00 WIB

Capsule wardrobe mendorong kita untuk berpakaian lebih mindful dan menekan shopping baju baru. Ilustrasi. Capsule wardrobe mendorong kita untuk berpakaian lebih mindful dan menekan shopping baju baru. Namun apakah konsep ini sejalan dengan aktivitas keberlanjutan? (iStockphoto/Tatiana Dyuvbanova)

Jakarta, CNN Indonesia --

Capsule wardrobe mendorong kita untuk menguras isi lemari dan shopping lebih sedikit, dengan tujuan busana lebih sering dipakai dan memperpanjang masa pakainya.

Namun pertanyaan pentingnya, apakah konsep ini betul-betul sejalan dengan aktivitas keberlanjutan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada kemungkinan capsule wardrobe hanya jadi 'euforia sesaat'. Ketika konsep ini digaungkan di momen-momen tertentu, misalnya kampanye style hidup minimalis alias gelombang tren di media sosial, sebagian orang mungkin ikut mencoba.

Kemudian, ketika industri fesyen kembali menawarkan sesuatu nan baru, pola shopping busana nan lama bisa kembali. Ketika pola lama kembali, nan terjadi bukan pengurangan konsumsi, melainkan overconsumption berulang dalam bungkusan berbeda.

Jadi, bisakah capsule wardrobe melangkah beriringan dengan keberlanjutan?

Penerapannya tetap belum sejalan dengan semangat keberlanjutan

Capsule wardrobe bisa diposisikan sebagai salah satu jawaban atas masalah nan ditimbulkan fast fashion, ialah limbah dari busana murah dengan siklus produksi nan singkat.

Intinya, konsep ini membujuk kita memilih busana nan berbobot dan tahan lama, lampau mengombinasikannya secara imajinatif agar ragam tetap terasa, sembari menekan pemborosan.

Namun di bumi nyata, mengambil konsumen terhadap capsule wardrobe tidak selalu konsisten. Ada kesenjangan antara sikap mau menerapkan sustainability dan perilaku nyata.

Sebuah penelitian di Journal of Sustainability Research (2025) menggambarkan gimana motivasi konsumen dalam mengangkat capsule wardrobe. Studi nan dilakukan José Magano ini melibatkan 776 konsumen di Portugal.

Hasil penelitian menunjukkan, niat konsumen dalam melakukan tanggung jawab sosial terlihat kuat melalui sikap. Namun, kesukaan pada fesyen dan style shopping hedonis justru memberikan pengaruh sebaliknya.

Selain itu, kajian berasas kelamin dan generasi memperlihatkan perbedaan. Perempuan condong mempunyai tingkat keterlibatan sustainability nan lebih tinggi, tetapi kebiasaan belanjanya juga tinggi.

Adapun Generasi Z menunjukkan kesenjangan antara niat dan aksi. Ide dan rencana tentang style hidup sustainable mereka belum berubah menjadi tindakan nyata. Meski mereka tampak lebih condong pada keberlanjutan dan terlibat dengan fesyen, mereka tidak betul-betul beriktikad mencoba capsule wardrobe.

Women use smartphone shopping online , Fashion outfit stylish clothes. Carry a colorful shopping bag.Capsule wardrobe mendorong kita untuk berpakaian lebih mindful dan menekan shopping baju baru. (iStockphoto/Ake Ngiamsanguan)

Salah satu penyebab nan disebut dalam studi tersebut, ialah lantaran mereka sudah terbiasa mengonsumsi busana fast fashion dan lebih banyak membeli busana berbobot lebih murah.

Kebiasaan shopping impulsif ini memang bertentangan dengan prinsip capsule wardrobe nan menekankan penggunaan jangka panjang dan pilihan terbatas.

Oleh lantaran itu, membujuk konsumen beranjak ke perencanaan lemari baju nan minimalis butuh perubahan pola pikir. Tantangannya, resistansi makin tinggi di era budaya fesyen kekinian nan menganggap ragam dan 'hal baru' sebagai simbol status serta ekspresi diri.

Selain itu, narasi tentang membangun capsule wardrobe di banyak tempat, condong mendorong membeli busana berkualitas, tahan lama, dan diproduksi secara etis. Artinya, butuh biaya awal nan lebih tinggi.

Bagi konsumen nan terbiasa membeli banyak busana murah, pengeluaran awal ini terasa tidak realistis.

Pengkampanye Urban Berkeadilan dari Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu Eka Setyawan, juga mempunyai pendapat tentang tantangan mengenai biaya ini.

"Kalau kita bicara soal tantangan di konteks opsi, misal slow fashion, secara etis tentu ini cukup bias kelas. Orang-orang dengan keahlian ekonomi menengah ke bawah, tentu sangat susah untuk reach out produk-produk nan sifatnya slow fashion," tutur Wahyu kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (19/5).

Menurutnya, beragam produk slow fashion condong mahal. Misalnya busana nan berbahan ramah lingkungan, condong dijual dengan nilai lebih mahal, apalagi produk eksklusif dengan label premium.

"Fenomena-fenomena ini jika kita cek dalam konteks sosiologis, ini kan membikin perilaku ramah lingkungan hanya untuk kelas-kelas tertentu," Wahyu menjelaskan.

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah alias 'kaum mendang-mending' dengan penghasilan UMR alias di bawah Rp10 juta, tentu bakal susah mengikuti style hidup nan menekankan keberlanjutan.

Baca laman selanjutnya... 

Add as a preferred
source on Google

Sumber cnn-lifestyle