Bumi Akan Jadi Superbenua Lagi, Ilmuwan: Bisa Musnahkan Manusia

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Bumi diperkirakan bakal kembali menyatu menjadi satu daratan raksasa seperti nan pernah terjadi ratusan juta tahun lalu. Namun, para intelektual memperingatkan bahwa peristiwa ini bisa membawa akibat ekstrem, apalagi berpotensi menakut-nakuti kelangsungan hidup manusia.

Sekitar 200 hingga 250 juta tahun ke depan, pergerakan lempeng tektonik bakal kembali menyatukan benua-benua menjadi satu superkontinen alias superbenua, mirip seperti Pangaea di masa lalu.

Fenomena ini bukan perihal baru dalam sejarah Bumi. Para intelektual menjelaskan bahwa planet ini memang mengalami siklus alami, dengan benua-benua terpecah lampau kembali berasosiasi dalam rentang waktu ratusan juta tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu bukan hanya mungkin, tetapi bagian dari siklus alami," tulis laporan tersebut seperti dikutip dari Ecoticias.

Dalam studi sebelumnya, para peneliti seperti Hannah Sophia Davies dari Bangor University, Wales, Inggris, berbareng timnya mengemukakan beberapa kemungkinan corak superkontinen masa depan, seperti Novopangea, Amasia, hingga Pangaea Ultima.

Semua skenario ini berjuntai pada pergerakan lempeng Bumi nan sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun, tetapi berakibat besar dalam jangka panjang. nan menjadi perhatian utama bukan hanya terbentuknya superkontinen, melainkan akibat suasana ekstrem nan menyertainya.

"Simulasi suasana menunjukkan bahwa penyatuan daratan besar bisa mengubah pola cuaca secara drastis. Lokasi superkontinen bakal sangat memengaruhi suasana planet," kata Michael J. Way, peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies.

Ketika seluruh benua menyatu, sebagian besar wilayah daratan bakal berada jauh dari laut. Akibatnya, suhu bisa menjadi sangat panas dan kering, menciptakan kondisi ekstrem nan susah dihuni oleh banyak makhluk hidup, termasuk manusia.

Beberapa penelitian apalagi menyebut kondisi ini dapat memicu kepunahan massal, terutama bagi mamalia nan tidak bisa beradaptasi dengan panas ekstrem dan kadar oksigen nan menurun. Selain itu, aktivitas vulkanik diperkirakan meningkat saat superbenua terbentuk, dan memicu lonjakan karbon dioksida di atmosfer, sehingga memperparah pemanasan dunia secara alami.

Meski terdengar mengkhawatirkan, para intelektual menegaskan bahwa proses ini terjadi dalam skala waktu nan sangat panjang, jauh melampaui umur peradaban manusia saat ini. Namun, studi ini menjadi pengingat bahwa Bumi adalah planet nan bergerak dan terus berubah.


(rns/rns)

Sumber detik-inet