Bumerang Ranjau Di Selat Hormuz: Ditanam Acak, Kini Hilang Jejak

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Untuk memastikan Selat Hormuz mereka kendalikan, Iran dilaporkan banyak menebar ranjau laut. Nah, New York Times melaporkan dengan mengutip pejabat, bahwa Iran mungkin tak punya catatan jeli mengenai letak semua ranjau nan telah mereka pasang. Sejumlah laporan menunjukkan pemasangan dilakukan secara random dan tidak terorganisir.

Mengutip pejabat AS, NYT melaporkan bahwa Iran semakin kesulitan untuk membuka kembali Selat Hormuz lantaran ketidakmampuannya menemukan seluruh ranjau laut nan ditanam selama bentrok dengan AS dan Israel, ditambah dengan kemungkinan sebagian ranjau tersebut telah tersapu oleh arus laut.

Di 2 Maret, pejabat senior IRGC (Korps Pengawal Revolusi Islam) mengumumkan bahwa jalur air tersebut ditutu, dan memperingatkan kapal mana pun nan memasukinya dapat ditargetkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring dengan disebarnya ranjau, gangguan meningkat. Lalu lintas kapal tanker nan melewati Selat tersebut menurun lantaran pemilik kapal resah mengenai potensi anjau nan dibarengi ancaman drone dan rudal Iran. Hal ini memberi Iran posisi tawar signifikan, memungkinkan mereka menekan arus daya global.

Namun, strategi ini belakangan dinilai menjadi bumerang lantaran Iran mungkin tidak mempunyai catatan nan jeli mengenai letak semua ranjau nan telah mereka pasang.

Iran berupaya menangani situasi ini, salah satunya dengan membuka jalur nan memungkinkan kapal lewat terlepas dari risikonya dan dalam beberapa kasus, dengan memungut biaya. IRGC mengeluarkan peringatan mengenai area nan diranjau, dan media menerbitkan peta rute nan diyakini lebih aman. Namun rute ini tetap terbatas dan lampau lintas maritim tidak kembali normal.

Presiden AS Donald Trump menginginkan pembukaan kembali selat tersebut dengan segera dan aman. Pejabat Iran secara tidak langsung mengakui kesulitan tersebut, di mana Menlu Abbas Araqchi menyatakan bahwa pembukaan kembali selat bakal dilakukan dengan mempertimbangkan kendala-kendala teknis.

Pembersihan ranjau laut adalah salah satu operasi militer paling kompleks. Bahkan AS nan punya kapal pemburu ranjau mutakhir, tak mempunyai sumber daya mengelola pembersihan jalur air nan sangat besar dan bergolak seperti Selat Hormuz dalam waktu singkat. Jika perihal ini saja bertindak untuk militer terkuat secara teknologi, situasi nan dihadapi Iran tentu lebih kritis.

Baik Iran maupun AS tak punya gambaran jelas mengenai berapa banyak ranjau nan tersisa alias di mana ranjau-ranjau tersebut tersebar di dalam selat. Trump telah memperingatkan Iran bahwa mereka bisa menghadapi serangan baru jika perundingan di Pakistan menemui kegagalan.

Ranjau laut

Ranjau laut adalah salah satu teknologi senjata nan sudah lama digunakan sebagai perangkat peledak berdikari nan ditempatkan di dalam air, untuk menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan.

Terdapat tiga jenis ranjau laut. Ranjau hanyut ditempatkan di air dan bergerak mengikuti arus. Ranjau tambat bebas bergerak, tapi dibatasi dalam radius nan diizinkan oleh tali dan jangkar nan terpasang pada ranjau tersebut. Ranjau dasar dirancang agar tidak bergerak sama sekali.

Ranjau juga dibedakan berasas langkah penyebarannya. Pada masa awal, sebagian besar ranjau dilepaskan dari kapal permukaan. Mulai Perang Dunia I, kapal selam mulai menebarkan ranjau, dan Perang Dunia II, tukar pesawat terbang nan menebarkan dalam jumlah besar.

Ranjau laut berbeda dalam langkah ledakannya. Ranjau kontak memerlukan sentuhan bentuk dari kapal agar bisa meledak. Ranjau pengaruh diledakkan oleh kehadiran sebuah kapal, baik melalui pemicu magnetik, akustik, maupun tekanan. Ranjau kendali diledakkan dari stasiun di darat untuk ofensif maupun defensif.


(fyk/fyk)

Sumber detik-inet