Bukan King Cobra, Ini Ular Berbisa Terbesar Yang Pernah Teror Bumi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

King Cobra adalah ular berbisa terbesar nan dikenal manusia, tapi gimana jika ini tidak sepenuhnya benar? Tahun 1857, mahir paleontologi Inggris, Richard Owen, menemukan 13 fosil nan menuntunnya mempublikasikan temuan jenis ular beludak (viper) baru, nan dia klaim sebagai nan terbesar nan pernah ada.

Namun, temuan Owen tersebut sempat lenyap ditelan era hingga 157 tahun kemudian. Sebuah fosil tunggal ditemukan kembali di dekat Thessaloniki, Yunani, nan menguatkan kebenaran penemuan Owen bertahun-tahun sebelumnya.

Awalnya di 1857, Richard Owen, sosok pembuat istilah dinosaurus, mendeskripsikan temuan luar biasa. Ia menyatakan menemukan 13 fosil tulang belakang seekor ular raksasa di dekat Thessaloniki, Yunani. Ia menamai jenis tersebut Laophis crotaloides.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari fosil tersebut, Owen tidak hanya menentukan ukuran dan berat sang ular, tapi juga familinya. Ia menyatakan Laophis crotaloides adalah sejenis ular beludak nan beratnya sekitar 25,8 kg dan panjang antara 3 hingga 4 meter.

King cobra, saat ini diakui jenis ular berbisa terbesar, dapat tumbuh hingga sekitar 5,5 meter namun beratnya jarang melampaui sekitar 9 kg. Karenanya, bisa dikatakan berat king cobra hanya sekitar sepertiga dari berat Laophis crotaloides.

Laophis crotaloides hidup di Yunani dan mungkin di bagian Bumi lain sekitar 4 juta tahun lalu. Ini berfaedah mereka menghuni wilayah dengan padang rumput, vegetasi lebat, dan cuaca dingin. Karena sebagian besar ular saat ini hibernasi sepanjang musim dingin dan hanya keluar saat cuaca menghangat, menakjubkan gimana Laophis crotaloides bisa memperkuat hidup dan tumbuh hingga sebesar itu.

Penelitian lanjutan mengenai keberadaan dan wilayah persebarannya terus dilakukan. Diyakini jenis tersebut mungkin juga hidup di luar wilayah Yunani, namun perihal ini tetap belum pasti.

Tidak banyak nan diketahui tentang Laophis crotaloides, dan sayangnya satu-satunya fosil nan ditemukan belum cukup membantu mengetahui jenis bisanya. Akan tetapi, hewan ini adalah sejenis ular beludak dan diasumsikan mempunyai bisa mirip dengan kebanyakan ular beludak masa kini.

Umumnya, bisa beludak menyerang jaringan tubuh dan berpotensi menyebabkan kematian. Bisa ini juga menyebabkan nekrosis (kematian jaringan) dan koagulopati (gangguan pembekuan darah), belum lagi rasa sakit hebat. Mereka juga punya taring solenoglyphous panjang dan berongga, memungkinkannya menyuntik bisa layaknya jarum suntik.

Georgios Georgalis, seorang peneliti, percaya pola makannya sangat mirip ular masa kini. Meskipun ular ini hidup berdampingan dengan beberapa hewan berukuran sangat besar, dia meyakini mangsanya mamalia mini seperti hewan pengerat.

Georgalis pernah mempresentasikan temuannya tentang Laophis crotaloides kepada Society of Vertebrate Paleontology di Berlin. "Ular ini memang sangat mengesankan. Kita betul-betul sedang membicarakan seekor monster!" ujarnya nan dikutip detikINET dari NBC.

Bagi Georgalis, rasa penasarannya bukan hanya berasal dari ukuran, melainkan dari pertanyaan tentang apa nan dilakukan monster semacam itu di wilayah beriklim sedang di Eropa. Sekitar 4 juta tahun lalu, suasana Bumi mendingin dan ekosistem padang rumput modern mulai bermunculan.

Wilayah tempat Laophis ditemukan juga merupakan rumah kura-kura raksasa, beberapa di antaranya tumbuh sebesar mobil. Karena suasana sangat dingin, tetap menjadi misteri gimana kura-kura dan ular purba ini menjaga metabolisme mereka agar tetap cukup aktif untuk bisa tumbuh raksasa.


(fyk/fyk)

Sumber detik-inet