Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara wilayah Jakarta dan sekitarnya bisa menurun imbas kombinasi musim tandus dan El Nino. Namun, perihal tersebut bukan disebabkan jumlah polutan nan meningkat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kualitas udara menurun lantaran curah hujan nan berkurang. Menurutnya, hujan berfaedah "mencuci" atmosfer dari polutan-polutan nan menumpuk di suatu wilayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya dengan tidak adanya hujan ini, bukan kualitas udaranya polutannya naik, tetapi polutannya tidak tercuci. Karena kita berkurang hujannya. Sumber polutan kan ada setiap saat, melalui aktivitas manusia, seperti transportasi, pabrik, pembangkit energi, dan sebagainya," jelas Ardhasena dalam dalam konvensi pers Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia secara daring, Rabu (10/6).
"Sehingga absennya hujan ini tidak membantu kita memperbaiki kualitas udara, lantaran tidak dibantu pencucian atmosfer oleh hujan," tambahnya.
Ardhasena mengatakan pihaknya memprediksi kejadian El Nino bakal segera aktif dan terus memperkuat hingga awal tahun 2027, dengan kesempatan intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.
Fenomena El Nino diketahui menyebabkan penyimpangan suasana di beragam bagian dunia, tidak hanya di Indonesia. Dampak dari kejadian ini di beragam bagian bumi mempunyai pola dan periode nan berbeda-beda.
Di wilayah tropis seperti Indonesia, kejadian ini berakibat menekan curah hujan, sehingga kondisinya lebih kering pada bulan Juni hingga Januari.
Lebih lanjut, Ardhasena memperkirakan suhu di wilayah Jakarta bakal terasa lebih sumuk pada sekitar September akhir hingga Oktober. Periode tersebut merupakan momen posisi Matahari melintas di atas Pulau Jawa.
"Sebelum bulan september, ialah di sekitar bulan Juli dan Agustus, udara kering nan timbul akibat curah hujan nan minim ini juga disertai dengan berkurangnya kelembapan, jadi itu sebenarnya karakter nan unik dari Pulau Jawa ketika puncak musim kemarau. Lalu temperaturnya bakal naik di sekitar bulan September dan Oktober," jelasnya.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·