Bahan Baku Obat Ri Masih Banyak Yang Impor, Termasuk Parasetamol

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin tidak menampik bahwa akses obat di Indonesia sekarang tetap terbilang susah. Saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen bahan baku obat tetap mengandalkan impor, meskipun sudah turun dari sebelumnya 90-an persen.

Menkes mengambil contoh parasetamol nan saat ini belum sepenuhnya terintegrasi. Indonesia telah memproduksi benzena sebagai bahan dasar, tetapi tahapan hilirisasi menjadi cumene, fenol, hingga parasetamol tetap belum tersedia di dalam negeri.

"Jadi jika semua rantai produksi alias hilirisasi ini bisa dibikin di Indonesia, shopping nan 12 persen-13 persen itu bisa ditranslasikan jadi GDP di sektor kesehatan," kata Menkes Budi di Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menkes mengatakan bahwa ke depannya Indonesia diharapkan bisa memproduksi obat-obatan sendiri, tanpa impor bahan baku dari negara lain.

"Sekarang kami bikin agar ininya juga bisa dibikin di Indonesia API-nya, Active Pharmaceutical Ingredient alias bahan baku obat. Tadi bu Rizka sudah bikin 35 API nan dibikin di Indonesia," katanya.

"Dan itu bakal kami tingkatkan terus, agar makin lama makin banyak nan dibikin di Indonesia, sehingga hilirisasinya terjadi. Kita jangan beli di ujung saja, tapi pabriknya ini beli bahan bakunya dari Indonesia," sambungnya.

Selain obat, pemerintah juga mempercepat pengembangan industri biofarmasi melalui pembangunan pabrik pengolahan plasma darah. Selama ini, beragam produk turunan plasma seperti albumin, intravenous immunoglobulin (IVIG), serta aspek VIII dan aspek IX tetap berjuntai pada impor.

"Nah itu pak Luhut juga nan bantu bikin pabrik plasma pertama kali dan sudah jadi. Tinggal nunggu izinnya dan mudah-mudahan 2027 sudah bisa produksi 600 ribu liter per hari. Kita nggak usah impor lagi," katanya.

Kemenkes meminta support dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk bisa membantu integrasi pada industri, perdagangan, sampai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar kerjasama ini juga berakibat pada pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen.


(dpy/kna)

Sumber detik-health