Jakarta -
Kehadiran teknologi seperti AI semestinya bisa meringankan beban pekerjaan sehingga bisa pulang kerja lebih sigap dan beristirahat. Namun, studi nan dilakukan Boston Consulting Group menemukan pekerja nan sering menggunakan AI merasakan corak kelelahan dan stres baru.
Boston Consulting Group melaporkan pekerja nan kudu mengawasi beberapa pemasok AI sekaligus merasakan sensasi nan disebut 'buzzing', di mana pekerja bakal merasa kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi.
Penulis studi ini menyebutnya kondisi tersebut dengan istilah 'AI brain fry', nan didefinisikan sebagai kelelahan mental akibat penggunaan alias pengawasan berlebihan terhadap perangkat AI di luar kapabilitas kognitif seseorang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berbanding terbalik dengan janji untuk mempunyai lebih banyak waktu untuk konsentrasi pada pekerjaan nan bermakna, mengerjakan banyak tugas sekaligus dapat menjadi karakter unik bekerja dengan AI," tulis Boston Consulting Group dalam laporannya, seperti dikutip dari CNN, Rabu (1/4/2026).
"Tekanan mental nan mengenai dengan AI ini mempunyai akibat nan signifikan dalam corak peningkatan kesalahan karyawan, kelelahan pengambilan keputusan, dan niat untuk berhenti," sambungnya.
Berbeda dengan chatbot AI nan hanya bisa memberikan jawaban, pemasok AI dapat diprogram untuk menyelesaikan tugas tertentu. Pengguna memang bisa mendelegasikan sebagian pekerjaannya ke pemasok AI, tapi sistem ini tetap kudu diawasi dengan ketat.
Untuk saat ini, 'brain fry' menjadi momok bagi developer software lantaran pemasok AI sudah semakin jago dalam menulis kode komputer. Namun, kode nan ditulis oleh AI justru kudu diperiksa secara lebih teliti lantaran jika ada masalah dapat merusak sistem.
"Rasanya seperti saya sedang membuka belasan tab di kepala saya, semuanya merebut perhatian," kata seorang manajer engineering senior kepada peneliti.
"Saya mendapati diri saya membaca perihal nan sama berulang kali, lebih sering ragu-ragu daripada biasanya, dan menjadi tidak sabar. Cara berpikir saya tidak rusak, hanya berisik-seperti gangguan tetap mental," sambungnya.
Meski begitu, penelitian BCG dan organisasi lainnya tidak memandang kejadian 'brain fry' sebagai kasus di mana AI menyebabkan orang-orang mengalami kelelahan saat bekerja.
Studi nan melibatkan 1.488 ahli di Amerika Serikat ini justru menemukan penurunan tingkat kelelahan kerja ketika AI mengambil alih tugas pekerjaan nan berulang. BCG merekomendasikan perusahaan untuk menerapkan batas nan jelas mengenai penggunaan dan pengawasan AI oleh karyawan.
(vmp/rns)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·