Astronaut Artemis Ii Andalkan Mata Telanjang Saat Meneliti Bulan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Misi Artemis II milik NASA menghadirkan pendekatan unik dalam mempelajari permukaan Bulan. Alih-alih sepenuhnya mengandalkan teknologi canggih, para astronaut justru menggunakan pengamatan langsung dengan mata mereka sebagai perangkat utama.

Para astronaut bakal menjalankan sejumlah misi ilmiah selama penerbangan mengitari Bulan. Mereka ditugaskan mengawasi beragam letak dan kejadian di permukaan Bulan sebagai bagian dari 10 tujuan penelitian nan telah ditetapkan NASA.

Selama momen terbang melintasi Bulan nan berjalan beberapa jam, kru bakal mengandalkan pengamatan visual secara langsung, didukung kamera nan tersedia di dalam kapsul Orion.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mata manusia pada dasarnya adalah kamera terbaik nan pernah ada. Jumlah reseptor di mata manusia jauh melampaui keahlian kamera," kata Kelsey Young, intelektual utama untuk misi Artemis II, dikutip dari AFP.

Pendekatan ini dinilai krusial lantaran mata manusia tetap menjadi perangkat observasi nan sangat adaptif, bisa menangkap perincian nan kadang susah dideteksi oleh instrumen otomatis. Pengamatan langsung menggunakan mata bugil ini juga memungkinkan astronaut memandang fitur-fitur Bulan dengan perspektif nan belum pernah dialami sebelumnya.

Mereka berpotensi menyaksikan lanskap seperti kawah besar, pegunungan, hingga cekungan raksasa secara real-time. Bahkan, posisi misi ini memungkinkan kru untuk mengulang momen ikonik seperti foto 'Earthrise', ketika Bumi terlihat muncul dari kembali alam Bulan, sebuah pemandangan nan pertama kali diabadikan pada misi Apollo.

Misi Artemis II merupakan langkah krusial dalam program Artemis, nan bermaksud mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak era Apollo. Dalam misi ini, empat astronaut bakal mengelilingi Bulan tanpa mendarat, sembari mengumpulkan info krusial untuk misi berikutnya.

Meski terdengar sederhana, penggunaan mata manusia sebagai perangkat utama observasi justru menjadi bagian krusial dari eksplorasi luar angkasa. Kemampuan manusia dalam mengenali pola, perubahan cahaya, dan perincian visual dinilai tetap susah ditandingi sepenuhnya oleh mesin.


(rns/rns)

Sumber detik-inet