Jakarta, CNN Indonesia --
Harapan perdamaian di Timur Tengah mulai berembus usai Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) nan bisa mengarah ke penghentian perang.
MoU itu ditandatangani di letak nan berbeda. Presiden AS Donald Trump meneken arsip tersebut saat makan malam berbareng Presiden Emmanuel Macron di Prancis, di sela pertemuan puncak G7.
"Ini tidak mudah," kata Trump sebelum membubuhkan tanda tangan, Rabu (17/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nada yang berbeda, terdengar lebih nyaring dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dia dan Trump menandatangani arsip di letak masing-masing, tanpa saling jumpa.
"Teks ini merupakan gambaran bunyi suatu bangsa nan tak menukar kehormatan dan kemerdekaanya dengan langkah apapun," kata dia di X pada Kamis.
Pernyataan dua kepala negara itu menjadi tanda-tanda nan mengarah bahwa Iran untung banyak.
Kondisi itu makin jelas usai Trump menerima banyak kritik tajam dari para pendukung AS dan Israel. Namun, dia menanggapinya dengan mencatut kondisi ekonomi.
"Orang-orang tolol ini, nan menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan nilai minyak 'jatuh', adalah mereka nan cemburu, orang jahat, alias bodoh," kata Trump di Truthsocial.
Gagal tukar rezim
Peneliti senior Iran di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Danny Citinowicz menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai musibah strategis bagi pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Rencana awal AS-Israel untuk mengganti rezim sekarang berbalik dengan pengakuan Washington terhadap Teheran.
"Kita berupaya menggulingkan rezim tersebut dengan support AS, tetapi pada akhirnya Washington justru memberikan legitimasi dan memperkuat rezim nan sama nan mau kita jatuhkan," kata Citrinowicz, dikutip Al Monitor.
Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei memang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari. Namun, penerus dia nan juga anaknya Mojtaba Khamenei menyerukan pembalasan nan masif dan kuat.
Naiknya Mojtaba juga menjadi bukti kekuasaan ustadz Iran tak tergoyahkan dan punya sistem kepemimpinan nan tangguh.
Pengakuan AS atas Iran bisa ditelisik di poin kedua nan berisi bahwa Washington dan Teheran saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
"Serta menahan diri dari kombinasi tangan dalam urusan internal masing-masing," lanjut poin tersebut.
Kesempatan AS dan Israel mengganti rezim pun sekarang sirna dengan terminologi tak intervensi urusan negara lain.
Bersambung ke laman berikutnya...
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·