Jakarta -
Nyala api nan telah berkobar selama puluhan tahun di letak nan dijuluki Gerbang Neraka di Turkmenistan akhirnya mulai meredup. Namun, meskipun beberapa pihak sudah lama mau api tersebut padam, berita ini mungkin tidak sebaik nan diharapkan.
Kawah gas Darvaza, nama resmi situs tersebut, adalah sebuah lubang raksasa di Gurun Karakum nan terkenal lantaran nyala apinya tak pernah padam sejak tahun 1970-an. Ada beberapa kisah nan belum terverifikasi mengenai asal-usulnya.
Versi paling umum diyakini menyebut bahwa di 1971, insinyur Uni Soviet secara tidak sengaja mengebor sebuah kantong gas alam raksasa saat sedang mencari ladang minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi mencegah terlepasnya gas berbisa ke atmosfer, Soviet membakar gas dengan angan bakal sigap habis. Namun, tindakan itu menyebabkan tanah sekitarnya ambles, menciptakan kawah 70,1 meter dan sedalam 20,1 meter. Lima dasawarsa kemudian, lubang tersebut tetap menyala lantaran terus melahap gas metana alami nan merembes dari perut Bumi.
Kawah ini menjadi lokasi wisata terkenal meskipun susah dijangkau dan apalagi pernah menjadi latar belakang kampanye promosi presiden Turkmenistan. Namun beberapa tahun terakhir, pengamat mencatat nyala api di Gerbang Neraka meredup.
Di 2025, Turkmenistan menyatakan di sebuah konvensi bahwa nyala api di kawah gas Darvaza mulai memudar. "Penurunan intensitas api mencapai nyaris tiga kali lipat," kata Irina Luryeva, kepala perusahaan daya milik negara, Turkmengaz.
Perubahan tersebut dikonfirmasi info satelit independen nan diperoleh dari Capterio, perusahaan asal Inggris nan berspesialisasi dalam konsultasi untuk mengurangi pembakaran gas di industri minyak dan gas.
Menurut pemerintah Turkmenistan, penurunan intensitas disebabkan dua sumur nan dibor di dekat kawah di 2024 untuk ekstraksi gas alam dari kantong gas itu. Namun, Capterio mempunyai pandangan berbeda. Mengutip New York Times, perusahaan tersebut meyakini nyala api sudah meredup sebelum sumur dibuat dan belum dapat dipastikan apakah aspek alam turut berperan.
Lantas, apakah menutup Gerbang Neraka ini baik? New York Times melaporkan meski nyala apinya melemah, kemungkinan besar api takkan sepenuhnya padam dalam waktu dekat. Terlebih kawah ini tetap menghasilkan gas metana dalam jumlah sangat besar.
Antara 2022 dan 2025, kawah ini melepaskan rata-rata sekitar 1.300 kilogram metana per jam, menurut info Carbon Mapper. Oktober 2025, emisi metananya apalagi melonjak hingga 1.960 kilogram per jam.
Walaupun jumlah ini lebih mini dibanding gas nan dilepaskan beberapa ladang minyak dan gas raksasa, nomor ini tetap signifikan untuk sebuah gas nan berkontribusi kuat terhadap perubahan iklim. Untungnya, metana ini berubah menjadi karbon dioksida saat terbakar di kawah, sehingga dampaknya sedikit lebih ringan bagi lingkungan.
Nah jika api tersebut betul-betul padam, metana mentah nan bisa mengurung panas di atmosfer sekitar 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, bakal terlepas begitu saja ke udara. Meskipun karbon dioksida adalah pendorong utama perubahan suasana dalam jangka panjang, metana adalah gas rumah kaca terbanyak kedua dan menyumbang sekitar 11% emisi global.
Jadi dikutip detikINET dari IFL Science, walaupun nyala api mungkin lebih redup dibandingkan sebelumnya, saat ini tidak ada tanda-tanda api tersebut sepenuhnya padam dalam waktu dekat dan perihal itu mungkin bukanlah sesuatu nan buruk.
(fyk/fyk)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·