CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 23:30 WIB
Ilustrasi. Proses menghapus tato rupanya bukan sekadar menghilangkan tinta dari permukaan kulit. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tren tattoo removal semakin banyak diminati, seiring berkembangnya teknologi laser untuk memudarkan hingga menghapus tato permanen.
Tidak sedikit orang memutuskan menghapus tato lantaran argumen pekerjaan, perubahan style hidup, hingga sekadar sudah tidak menyukai gambar lama di tubuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, proses menghapus tato rupanya bukan sekadar menghilangkan tinta dari permukaan kulit. Mengutip dari American Society for Laser Medicine & Surgery (ASLMS), laser bekerja dengan mengirim pulsa daya sinar nan sangat terkonsentrasi ke pigmen tinta tato.
Energi tersebut kemudian memecah partikel tinta menjadi ukuran nan jauh lebih kecil. Setelah pigmen pecah, tubuh perlahan membersihkan sisa partikel tinta melalui sistem imun dan sistem limfatik.
Dengan begitu, tato biasanya memudar sedikit demi sedikit, bukan langsung lenyap dalam satu kali tindakan.
Saat tinta sudah dipecah oleh laser, tubuh mengambil alih proses berikutnya. Sel imun seperti makrofag, sel pertahanan tubuh nan bekerja membersihkan barang asing, bakal menangkap partikel tinta nan sudah lebih kecil.
Partikel tersebut kemudian dibawa melalui sistem limfatik untuk dibersihkan secara bertahap. Laser hanya berfaedah menghancurkan tinta, sementara tubuhlah nan bekerja mengeluarkan sisa pigmen dari kulit.
Karena itu, keahlian sistem imun juga ikut memengaruhi hasil tattoo removal.
Setelah laser dilakukan, kulit biasanya mengalami reaksi seperti luka ringan nan terkontrol. Area nan dilaser bisa tampak:
- merah,
- bengkak,
- nyeri,
- terasa panas,
- muncul titik perdarahan kecil,
- berkerak,
- melepuh ringan.
Reaksi ini termasuk kondisi nan umum terjadi setelah prosedur laser tato. Pasalnya, kulit perlu waktu untuk pulih, jarak antar sesi biasanya dibuat beberapa minggu.
Banyak orang berambisi tato langsung lenyap setelah satu kali tindakan. Padahal, tinta tato berada dalam beberapa lapisan di dermis dengan kedalaman berbeda.
Dikutip dari American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa saat tato dibuat, tinta ditumpuk dalam beberapa lapisan. Karena itu, laser tidak bisa menghancurkan seluruh pigmen sekaligus secara kondusif dalam satu sesi.
Jumlah sesi nan dibutuhkan juga bisa berbeda pada setiap orang. Faktor nan memengaruhi antara lain warna tinta, kedalaman tato, jumlah tinta, usia tato, letak tubuh, jenis kulit, hingga keahlian tubuh membersihkan pigmen.
Selain itu, warna tinta juga rupanya sangat memengaruhi hasil laser removal. Pigmen hitam biasanya paling mudah dihilangkan lantaran bisa menyerap daya laser lebih baik dibanding warna lain.
Sebaliknya, warna seperti hijau, biru, merah, kuning, dan putih condong lebih susah dihapus dan kadang memerlukan jenis laser berbeda. Bahkan tinta putih termasuk salah satu nan paling susah lantaran beberapa pigmen putih justru bisa menggelap setelah terkena laser.
Penghapusan tato bukan sekadar menghapus gambar dari kulit. Di kembali prosesnya, ada hubungan antara laser, sistem imun, tinta, dan jaringan kulit nan bekerja perlahan untuk memudarkan tato sedikit demi sedikit.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·