Jakarta, CNN Indonesia --
Atlet asal Denmark, Viktor Axelsen, mengungkapkan argumen memutuskan pensiun sebagai pebulutangkis ahli pada Rabu (15/4).
Keputusan pensiun tersebut diumumkan Viktor Axelsen melalui unggahan pada media sosial Instagram. Sebelumnya Axelsen juga berbincang dengan Badminton Europe tentang keputusan gantung raketnya ini.
Axelsen pensiun dengan status dua kali juara Olimpiade pada 2020 dan 2024, selain itu dia kampiun pada dua Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi cedera nan berulang memaksa Axelsen gantung raket lebih cepat. Demi kesehatannya di masa depan, pemain 32 tahun itu terpaksa mengambil keputusan pensiun.
"Seperti nan diketahui banyak orang, saya telah berjuang dengan masalah punggung saya selama beberapa waktu. Setelah menjalani operasi pada bulan April tahun lampau dan melalui proses rehabilitasi nan panjang, sayangnya saya mengalami kemunduran pada bulan Oktober," ujar Axelsen.
"Sejak turnamen tersebut, saya tidak dapat bermain alias berlatih pada level nan dibutuhkan. Saya tidak dapat bermain alias berlatih lantaran rasa sakit, dan itulah sebabnya saya terpaksa mengambil keputusan nan sangat susah ini," ucap Axelsen menambahkan.
Pemain kelahiran Odense, Denmark, itu mengatakan, keputusan pensiun diambil setelah berkonsultasi dengan master nan merawatnya pada cedera sebelumnya.
"Keputusan ini telah dibuat setelah berkonsultasi dengan mahir bedah nan mengoperasi saya tahun lalu, serta dokter-dokter nan telah bekerja sama dengan saya. Mereka mengatakan bahwa dengan rasa sakit nan saya alami sekarang, mungkin diperlukan operasi lain, dan jika itu tidak melangkah dengan baik, prosedur nan lebih serius mungkin diperlukan."
"Bagaimanapun, itu berfaedah saya tidak bakal dapat berkompetisi di level nan dibutuhkan. Jadi, ini hanyalah tubuh saya nan memberi tahu saya untuk berhenti, dan saya kudu mengikuti saran master saya," tutur Axelsen.
Di satu sisi, Axelsen merasa pensiun pada saat ini menjadi keputusan nan tidak setara baginya. Namun dia tidak mempunyai pilihan.
"Membuat keputusan ini sangat susah dan terkadang terasa tidak adil. Pada saat nan sama, tubuh saya telah melakukan pekerjaan nan luar biasa selama bertahun-tahun, dan saya melihatnya sebagai kewenangan spesial nan besar untuk dapat bermain, berlatih, dan memenangkan begitu banyak turnamen besar di level tertinggi."
"Sangat sedikit orang nan dapat mengalami apa nan telah saya alami dan berjumpa begitu banyak orang nan luar biasa. Itulah kenapa saya memandang kembali pekerjaan saya dengan sukacita," ujar Axelsen.
(sry/rhr)
Add
as a preferred source on Google
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·