Alarm Serius, Kotim Bersiap Hadapi Kemarau Terpanas Dan Terpanjang

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Timur (Kotim) mematangkan langkah menghadapi ancaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta kekeringan nan diprediksi bakal lebih ekstrem tahun ini. Rapat koordinasi digelar di Gedung B Setda Kotim sebagai bagian dari persiapan penanggulangan musibah saat tandus melanda, Selasa 21 April 2026.

Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan, rapat ini merupakan langkah awal untuk menyusun strategi menghadapi musim tandus nan diperkirakan menjadi nan terpanas dan terpanjang dalam tiga dasawarsa terakhir berasas prakiraan .

“Biasanya tandus hanya berjalan satu sampai dua bulan, tetapi tahun ini diperkirakan bisa mencapai empat hingga enam bulan. Ini tentu kudu kita antisipasi sejak dini,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh organisasi perangkat wilayah (OPD) diminta segera menyusun rencana tindakan komplit dengan kebutuhan anggaran dan kesiapan personel. Hal ini krusial agar saat kondisi darurat terjadi, wilayah sudah mempunyai kesiapan maksimal.

Menurut Halikinnor, penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan lantaran akibat kebakaran tidak hanya dirasakan satu pihak, melainkan seluruh lapisan.

“Kalau sudah terjadi kebakaran dan muncul kabut asap, semua sektor terdampak. Mulai dari , pendidikan, transportasi hingga ekonomi,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar segera mengambil tindakan andaikan menemukan titik api mini agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar. Mengingat kondisi wilayah Kotim nan didominasi lahan gambut, proses pemadaman bakal jauh lebih susah jika api sudah meluas.

“Kita tahu wilayah kita banyak gambut. Kalau sudah terbakar, memadamkannya tidak mudah, apalagi di letak nan susah dijangkau dengan keterbatasan personel dan peralatan,” katanya.

Selain ancaman karhutla, kekeringan dan krisis air bersih juga menjadi perhatian serius, khususnya di wilayah selatan Kotim. Daerah tersebut tetap banyak berjuntai pada air hujan lantaran sumber air sungai bercampur air laut sehingga tidak layak digunakan.

“Ketika hujan mulai berkurang, kebutuhan air bersih bakal meningkat. Nantinya bakal kita upayakan suplai dari Sampit untuk membantu masyarakat di wilayah selatan,” jelasnya.

Di sektor pertanian, akibat tandus dipastikan bakal memengaruhi produksi. Meski demikian, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah antisipasi dengan mendorong penanaman komoditas nan lebih tahan terhadap kondisi kering.

“Penurunan produksi pasti ada, tetapi kita berambisi tidak terlalu signifikan sehingga kebutuhan pangan tetap bisa terpenuhi,” pungkasnya.

Sementara itu sebelumnnya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memperkirakan tandus mulai terjadi sejak awal Juni dan berjalan hingga sekitar 120 hari.

Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa awal musim tandus di Kotim terjadi secara bertahap, dimulai dari wilayah utara, kemudian bergerak ke wilayah tengah hingga selatan.

“Untuk wilayah utara, awal musim tandus diperkirakan pada dasarian pertama Juni alias sekitar 1 Juni. Wilayah tengah menyusul pada dasarian kedua sekitar 11 Juni,” ujarnya, Rabu 8 April 2026.

mencatat, lama tandus tahun ini berpotensi lebih panjang dibanding kondisi normal, ialah mencapai sekitar 120 hari hingga September mendatang.

“Durasi sekitar 120 hari, ini lebih lama dari biasanya. Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus,” tambahnya. (Nardi)

Sumber info-lokal