7 Faktor Ini Bisa Memicu Gerakan Aneh Seperti Sindrom Tourette

Sedang Trending 1 hari yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 04:30 WIB

Selain aspek genetik, aktivitas tic pada sindrom Tourette juga bisa dipicu oleh beragam kondisi lainnya. Apa saja? Ilustrasi. Selain aspek genetik, aktivitas tic pada sindrom Tourette juga bisa dipicu oleh beragam kondisi lainnya. (iStockphoto/designer491)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sindrom Tourette sering dikenal dari indikasi nan paling terlihat, seperti aktivitas berulang alias bunyi nan muncul tiba-tiba.

Tourette ditandai dengan tic motorik dan tic vokal nan muncul berulang dan susah dikendalikan. Ada nan ringan, seperti sering berkedip, meringis, berdehem, alias mengangkat bahu tanpa sadar. Namun, ada juga nan cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip The Lancet Neurology, sindrom Tourette merupakan kondisi kronis nan mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

Selama ini Tourette memang kerap dikaitkan dengan aspek genetik. Namun, sejumlah penelitian juga menunjukkan ada juga aspek non-genetik dan pemicu sehari-hari nan diduga ikut berperan, baik dalam meningkatkan akibat maupun membikin tic lebih sering muncul.

Meski begitu, faktor-faktor ini bukan penyebab tunggal nan pasti, melainkan hal-hal nan bisa berkontribusi.

Lalu, apa saja aspek non-genetik dan pemicu nan paling sering dikaitkan dengan sindrom Tourette?

1. Kondisi saat kehamilan dan persalinan

Faktor pertama nan cukup sering dibahas adalah kondisi selama kehamilan hingga persalinan. Dalam ulasan The Aetiology of Tourette Syndrome and Chronic Tic Disorder in Children and Adolescents, disebutkan bahwa riwayat kesehatan perinatal, ialah kondisi sejak masa kehamilan sampai setelah lahir, bisa berkedudukan dalam meningkatkan akibat gangguan tic.

Beberapa kondisi nan sering dikaitkan antara lain:
- berat badan lahir rendah,
- komplikasi kehamilan alias persalinan,
- stres psikologis ibu selama kehamilan,
- mual dan muntah berat di trimester awal,
- serta penggunaan obat tertentu saat hamil.

Ini menunjukkan kondisi kehamilan memang sering disebut dalam pembahasan akibat Tourette. Namun, ini bukan berfaedah setiap ibu dengan kondisi tersebut pasti bakal mempunyai anak dengan Tourette.

2. Infeksi saat mengandung dan jangkitan awal pada anak

Close-up of pregnant woman relaxing and sitting on the side on the sofa. Holding a hands on the tummy.Ilustrasi. Infeksi saat kehamilan juga bisa meningkatkan akibat gangguan tic pada anak. (Istockphoto/ Kjekol)

Faktor lain nan cukup kuat didukung penelitian adalah infeksi. Studi besar dalam jurnal Biological Psychiatry menemukan bahwa jangkitan pada ibu selama kehamilan dan jangkitan pada anak di usia awal berangkaian dengan peningkatan akibat gangguan tic, termasuk sindrom Tourette.

Penelitian ini menggunakan metode sibling-controlled alias membandingkan kerabat kandung, sehingga dinilai lebih kuat dalam memandang hubungan aspek lingkungan.

Hasilnya menunjukkan bahwa paparan jangkitan pada periode awal kehidupan bisa ikut memengaruhi perkembangan sistem saraf anak, nan kemudian berangkaian dengan munculnya tic. Faktor ini tetap dipahami sebagai peningkat risiko, bukan penyebab pasti.

3. Merokok saat hamil, sering disebut tapi buktinya tidak sesederhana itu

Paparan lain nan sering dibahas adalah merokok saat mengandung alias prenatal smoking, ialah kondisi ketika ibu terpapar rokok selama kehamilan, baik sebagai perokok aktif maupun pasif.

Meta-analisis dalam jurnal BMC Public Health menemukan bahwa merokok saat mengandung tidak mempunyai hubungan signifikan secara spesifik dengan sindrom Tourette.

Meski begitu, paparan rokok selama kehamilan tetap dikaitkan dengan peningkatan akibat gangguan perkembangan saraf secara umum pada anak. Jadi, aspek ini tetap krusial dalam konteks kesehatan kehamilan, hanya saja tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab Tourette.

Simak selengkapnya di laman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Sumber cnn-lifestyle