CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 20:30 WIB
Ilustrasi. Ada langkah nan bisa dilkukan saat menghadapi orang nan silent treatment. (iStockphoto/Prostock-Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menghadapi orang terdekat nan tiba-tiba memilih tak bersuara saat terjadi masalah bisa terasa melelahkan. Pesan tidak dibalas, percakapan dihindari, dan konflik dibiarkan menggantung tanpa kejelasan.
Dalam sebuah hubungan, tak bersuara sebenarnya tidak selalu buruk. Sebagian orang memang memerlukan waktu untuk menenangkan diri sebelum membicarakan masalah. Namun, tak bersuara bisa menjadi persoalan ketika digunakan untuk menghukum, mengontrol, alias membikin orang lain merasa bersalah.
Perilaku ini kerap dikaitkan dengan silent treatment, ostracism, alias stonewalling. Bentuknya bisa berupa sengaja mengabaikan seseorang, menolak berkomunikasi, alias menarik diri saat bentrok terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah studi nan dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menyebut silent treatment sebagai salah satu corak pengucilan dalam hubungan dekat. Penelitian tersebut menemukan bahwa perilaku ini dapat merusak kesejahteraan emosional dan menurunkan kualitas hubungan, terutama jika tidak diikuti dengan komunikasi nan sehat.
Jika Anda sedang mengalaminya, berikut beberapa langkah menghadapi orang nan melakukan silent treatment:
1. Jangan langsung mengejar secara berlebihan
Ketika seseorang tiba-tiba diam, reaksi pertama nan sering muncul adalah panik. Anda mungkin merasa mau terus mengirim pesan, menelepon, alias memaksa orang tersebut segera memberikan penjelasan.
Padahal, mengejar secara berlebihan justru dapat membikin kondisi emosional semakin tidak seimbang. Cobalah mengambil jarak sejenak dan menenangkan diri terlebih dulu agar respons nan diberikan tidak didorong oleh rasa takut, marah, alias cemas.
2. Bedakan antara butuh jarak dan sedang menghukum
Tidak semua sikap tak bersuara merupakan silent treatment. Ada orang nan memilih tak bersuara lantaran merasa kewalahan dan memerlukan waktu untuk mengelola emosinya. Namun, ada pula nan sengaja tak bersuara untuk menghukum alias membikin musuh bicara merasa bersalah.
Perhatikan polanya. Jika seseorang meminta waktu untuk menenangkan diri lampau kembali membahas masalah, itu bisa menjadi corak jarak nan sehat. Sebaliknya, jika dia berulang kali menghilang tanpa penjelasan, menolak berkomunikasi, alias membikin Anda terus menebak-nebak, pola tersebut patut diwaspadai.
3. Tanyakan dengan tenang
Saat situasi mulai mereda, cobalah membujuk bicara tanpa nada menyerang alias menyalahkan.
Gunakan kalimat nan jelas dan terbuka, misalnya, "Aku merasa Anda sedang menjauh. Kalau Anda memang butuh waktu untuk tenang, saya bisa memberi ruang. Tapi saya berambisi kita tetap membicarakan masalah ini nanti."
Pendekatan seperti ini memberi kesempatan bagi orang lain untuk menenangkan diri, sekaligus menunjukkan bahwa masalah tidak bisa dibiarkan menggantung begitu saja.
4. Tetapkan pemisah waktu nan jelas
Jeda dalam komunikasi nan sehat tetap memerlukan batas. Mengambil waktu beberapa menit alias beberapa jam tentu berbeda dengan mendiamkan seseorang selama berhari-hari tanpa kepastian.
Menetapkan pemisah waktu dapat membantu menjaga kebutuhan ruang pribadi kedua belah pihak tanpa membiarkan tak bersuara berubah menjadi perangkat untuk menghukum.
5. Jangan membalas dengan diam
Membalas silent treatment dengan sikap serupa sering kali hanya memperpanjang konflik. Kedua pihak sama-sama menutup diri, sementara masalah nan sebenarnya tidak pernah terselesaikan.
Manfaat sikap tak bersuara sangat terbatas jika tidak diikuti komunikasi nan konstruktif. Jeda hanya bakal berfaedah ketika digunakan untuk menenangkan diri sebelum kembali berbincang dan mencari solusi bersama.
Karena itu, tidak masalah mengambil jarak sementara, asalkan tetap mengomunikasikan niat untuk menyelesaikan persoalan.
6. Jangan terus-menerus mencari validasi
Saat didiamkan, seseorang bisa merasa kudu terus meminta maaf, apalagi ketika belum memahami kesalahan nan sebenarnya terjadi. Kondisi ini dapat memunculkan rasa bersalah, takut ditinggalkan, hingga kekhawatiran bahwa hubungan bakal berakhir.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa ostracism alias pengucilan sosial dapat berakibat besar terhadap emosi, perilaku, serta rasa mempunyai seseorang.
Karena itu, jangan menganggap remeh perilaku mendiamkan nan terjadi terus-menerus, terutama jika membikin Anda merasa kudu selalu mengejar pengakuan alias pengesahan dari orang lain.
7. Pertimbangkan support profesional
Jika silent treatment terjadi berulang kali, berjalan dalam waktu lama, disertai manipulasi, ancaman, alias membikin seseorang takut menyampaikan pendapatnya, support ahli bisa menjadi pilihan.
Konseling pasangan, konseling keluarga, maupun psikolog dapat membantu mengidentifikasi pola komunikasi nan tidak sehat dan menemukan langkah nan lebih baik untuk menyelesaikan konflik.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·