3 Dampak Kenaikan Harga Pertamax Ke Konsumen

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti kenaikan nilai BBM nonsubsidi Pertamax. Pertamax mengalami kenaikan nilai menjadi Rp 16.250 per liter mulai hari ini setelah sempat ditahan pada level Rp 12.300 per liter.

Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mengatakan pihaknya memahami nilai BBM non subsidi dipengaruhi oleh dinamika nilai minyak bumi dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Namun demikian, penyesuaian nilai tersebut tetap kudu memperhatikan aspek perlindungan konsumen, transparansi, dan dampaknya terhadap masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rio mengungkapkan beberapa akibat nan bisa terjadi kepada konsumen di tengah kenaikan nilai BBM Pertamax.

Pertama, potensi migrasi konsumen ke BBM subsidi. Menurutnya, kenaikan nilai Pertamax berpotensi mendorong perpindahan sebagian konsumen ke Pertalite.

Kondisi ini kudu diantisipasi secara serius oleh Pemerintah dan Pertamina agar tidak menimbulkan lonjakan permintaan nan berujung pada antrean panjang, pembatasan distribusi, alias apalagi kelangkaan BBM di sejumlah wilayah.

"Jangan sampai juga masyarakat nan memang berkuasa memperoleh BBM subsidi justru menjadi pihak nan paling dirugikan," tutur Rio dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Kedua, akibat nan terjadi pada daya beli masyarakat. Kenaikan nilai BBM selalu mempunyai pengaruh berantai terhadap biaya transportasi, pengedaran barang, dan pengeluaran rumah tangga.

Selain itu, golongan masyarakat kelas menengah kudu menjadi perhatian khusus, karena menjadi golongan nan paling terdampak lantaran tidak menikmati subsidi BBM namun kudu menanggung kenaikan biaya energi.

"Oleh lantaran itu, Pemerintah perlu mengantisipasi akibat inflasi dan menjaga stabilitas pasokan serta nilai BBM nan menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat," sebut Rio.

Ketiga, masyarakat bisa mengalami kerugian lantaran pengumuman kenaikan nilai nan dadakan dilakukan Pertamina. Masyarakat menurutnya perlu waktu nan cukup untuk menyesuaikan keputusan ekonominya, jika kenaikan nilai dilakukan dadakan bakal menyulitkan.

"Sebagai produk nan digunakan secara luas dan berakibat terhadap pengeluaran rumah tangga, perubahan nilai semestinya disampaikan secara lebih transparan dan memberikan waktu nan cukup bagi konsumen untuk menyesuaikan keputusan ekonominya," beber Rio.

Kenaikan Pertamax Harus Dibarengi Kenaikan Kualitas. Klik laman selanjutnya.

Rio juga mencatat kenaikan nilai Pertamax sudah semestinya diiringi dengan kenaikan kualitas bahan bakar dan jasa nan ada untuk masyarakat sebagai konsumen.

Dia mengatakan masyarakat berkuasa memperoleh agunan kualitas BBM, kemudahan akses, keandalan distribusi, kecermatan takaran, serta pelayanan nan lebih baik di SPBU.

"Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan nilai tanpa memperoleh peningkatan faedah dan kualitas jasa nan sepadan," sebut Rio.

YLKI juga menyarankan pertimbangan terhadap tata kelola komunikasi publik mengenai perubahan nilai peralatan dan jasa strategis. Pihak Rio mendorong adanya standar pengumuman nan lebih transparan dan terukur untuk setiap penyesuaian harga.

Apalagi untuk harga-harga komoditas nan berakibat luas terhadap masyarakat, sehingga kewenangan konsumen atas info dapat terlindungi dengan lebih baik.

(hal/hns)

Sumber finance